Tuesday, May 29, 2012

The Island President

 Apa jadinya jika sebuah pemutaran film diikuti sesi diskusi langsung dengan pemeran utamanya? Sudah lumrah kali yah. Nah kalau pemutaran film yang sesi diskusinya adalah diskusi langsung dengan mantan presiden, gimana? Eh, emang ada Presiden yang mau main film? Ya adalah. Ini tentang sebuah film dokumenter perjalanan karir seorang Presiden di sebuah negeri yang indah namun penuh gejolak, yang pasti bukan gejolak asmara lho yah.  

Maldives, negara dengan 1190 pulau

Resor mewah di Maldives. Source: http://www.themaldivesresorts.com/

Resor mewah di Maldives. Source: http://www.themaldivesresorts.com/
Izinkan saya bercerita tentang sebuah negeri indah bernama Maldives, negara kepulauan berpenduduk mayoritas muslim. Maldives, bagi kita, mungkin gambaran tempat honey moon yang sempurna, biru lautnya begitu indah, resort-resort mewah dan private tersebar di seantero negeri, rakyatnya pun sangat ramah. Itu hanya beberapa dari sekian alasan untuk mengunjungi Maldives. Namun, ternyata Maldives tak melulu seindah biru lautnya. Ada banyak cerita-cerita tragis yang pernah terjadi di Maldives. Siapa yang tahu kalau ternyata Maldives yang indah itu menyimpan duka, siapa yang tahu kalau banyak warga Maldives yang diculik, ditahan dan disiksa selama 3 dekade kediktatoran pemerintah Presiden Gayoom (1978-2008), siapa yang tahu bahwa pemilu yang berulang kali dilaksanakan di Maldives selalu berakhir dengan kemenangan Gayoum dengan suara mutlak karena memang tidak ada saingan, dan siapa pula yang tahu bahwa keuntungan perijinan resor-resor indah di Maldives ternyata hanya dinikmati oleh segelintir orang. Film "The Island President" mengawali ceritanya dengan kesaksian-kesaksian akan kelamnya kehidupan di bawah kediktatoran Presiden Gayoom.    

Cerita dilanjutkan dengan sosok pemuda yang mempercayai bahwa kediktatoran di Maldives hanya menyengsarakan rakyat. Dialah Mohamed Nasheed (nama gaulnya "Anni"), seorang pemuda Maldives lulusan Inggris yang merasa resah dengan situasi negaranya. Dia ternyata tidak sendiri, dia dan beberapa temannya mulai mengkritisi pemerintah lewat buletin-buletin politik mereka yang menyuarakan demokrasi. Gerah dengan buletin ini, pemerintah Gayoom memenjarakan Nasheed dan teman-temannya. Nasheed dipenjara belasan kali. Saking hobinya dipenjara, Nasheed tidak menyaksikan kelahiran kedua putrinya. Nasheed mengalami sejumlah siksaan fisik dan menyaksikan teman-temannya disiksa oleh petugas penjara. Sebuah kejadian tragis mulai membangkitkan amarah rakyat yang selama itu diam. Nasheed berhasil membangunkan the silent majority lewat tuntutannya untuk memeriksa mayat seorang tahanan, Hassan Evan Nasheem, pemuda 19 tahun yang meninggal di penjara. Luka-luka memar di seluruh tubuh Hassan membuat Maldives bergolak, rakyat murka dan terang-terangan menunjukkan perlawanan terhadap pemerintah. Nasheed. Nasheed akhirnya harus mengasingkan diri ke Sri Lanka dan Inggris di tahun 2003. Dari jauh, Nasheed bersama temannya, Mohamed Latheef, membentuk Maldivian Democratic Party (MDP) sebagai tandingan pemerintah diktator yang sedang berkuasa. Dia kerap dijuluki "the Mandela of Maldives". 
Nasheed digelandang aparat saat melakukan demonstrasi,
Sumber: http://golhaboa.blogspot.com.au/2010/07/no-one-should-be-in-custody-during.html
Di tahun 2005, Nasheed kembali ke Male (ibukota Maldives) dengan disambut ribuan warga yang menaruh banyak harapan padanya. Di tahun 2008, Pemilu multi-partai pertama berlangsung di Maldives dan Nasheed berhasil menjadi Presiden dengan selisih suara yang tak terlalu jauh dengan presiden sebelumnya, Gayoom. Apa tugas pertamanya begitu menjadi Presiden? Nasheed melakukan survei kepada rakyat Maldives tentang hal mendasar yang paling mereka butuhkan. Ternyata, rakyat Maldives sangat resah dengan air laut yang makin naik dan mengancam tempat tinggal penduduk. Malah ibukota Maldives, Male, pernah mengalami tsunami hebat di tahun 2004 yang menenggelamkan dua per tiga dari kota ini. Semakin intensnya bencana di Maldives membuat Nasheed sadar bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman yang akan terjadi 10 atau 20 puluh tahun yang akan datang, karena dampak perubahan iklim sudah terasa di Maldives SEKARANG. Nasheed pun sadar bahwa Maldives yang hanya memiliki ketinggian rata-rata 1.5 meter di atas permukaan laut hanya akan tinggal nama jika tidak diselamatkan. Siapa yang bisa menyelamatkan Maldives? Tentunya bukan hanya Maldives saja, akan tetapi negara-negara lain yang telah banyak memberi sumbangsih emisi rumah kaca. Nasheed kemudian merencanakan serangkaian lobi dengan negara-negara kunci untuk mendapatkan dukungan dan meminta negara-negara lain untuk menurunkan emisi nya demi menyelamatkan rakyat Maldives yang terancam tenggelam. Sebuah pernyataan Nasheed yang membuat saya tertegun: 

"It won't be any good to have democracy, if we don't have a country" 
(Tidak akan ada gunanya Maldives berasaskan demokrasi, jika kami tidak memiliki negara) 

Serangkaian kunjungan dilakukan oleh Nasheed ke sejumlah negara seperti ke Inggris, India, Amerika dan bertemu dengan pemimpin negara-negara kepulauan kecil di Amerika sebagai persiapan menuju ke pertemuan Internasional Perubahan Iklim di Copenhagen 2009. Nasheed dalam melakukan lobi-lobi politiknya, didampingi oleh ilmuwan Inggris yang menjadikan lobi politiknya bermakna dan ilmiah. Di film ini, jelas terlihat betapa lihainya sosok Nasheed dalam melakukan perundingan, sosok nya mungil, komentarnya lucu dan straight to the point. Dia sosok yang sangat berani mengemukakan pendapatnya. Nasheed berusaha mencegah agar negara-negara peserta pertemuan Internasional Perubahan Iklim tidak menyetujui kenaikan suhu maksimum dua derajat sebagai kesepakatan global (FYI, suhu bumi sekarang diperkirakan sudah naik 0.8 derajat). Karena, dengan kenaikan dua derajat, sudah pasti rakyat Maldives, Tuvalu dan negara-negara kepulauan kecil lainnya akan terancam punah akibat perubahan siklus hidrologi global dengan kenaikan dua derajat tersebut. Di Copenhagen, sosok Nasheed adalah salah satu tokoh kunci yang menyebabkan konferensi tersebut tidak jadi "deadlock". Keterlibatannya dalam negosiasi di Copenhagen berhasil mencairkan kebekuan antara negara-negara maju yang enggan berkomitmen untuk mengurangi emisi dengan negara-negara berkembang yang menuntut negara-negara maju untuk mengurangi emisi. Meski hasil perundingan di Copenhagen kerap dianggap gagal, toh negara-negara penghasil emisi terbesar, China, Brazil dan Amerika, akhirnya bersedia menurunkan emisinya. Di Copenhagen pula, Nasheed didaulat sebagai Presiden Dunia (the Global President) oleh para aktivis yang bersimpati dengan perjuangannya dan rakyat Maldives yang terancam tenggelam.   
The Island President 
Di negara nya sendiri, sang Presiden merubah total kebijakan energinya. Maldives merupakan negara pertama yang mencanangkan negaranya sebagai negara pertama yang akan menjadi carbon neutral (tidak menghasilkan emisi gas rumah ke kaca ke atmosfer) di tahun 2019. Perubahan dimulai di kantor presiden yang mulai menggunakan solar panel. Bahkan, sang presiden ikut ke atap bangunan untuk ambil bagian memasang solar panel di atap istana. Selain itu, pertemuan bawah laut pertama di dunia dilakukan di Maldives sebagai sindiran kepada negara-negara lain tentang rakyat Maldives yang mungkin akan tenggelam oleh dosa-dosa yang mereka tidak lakukan. Saat ditanya oleh seorang wartawan: 

"Kalaupun Maldives carbon neutral, itu tidak akan berarti apa-apa kan jika negara-negara yang lain tidak melakukan hal yang sama?" 

Apa jawab Nasheed? 

"Yeah, ... But at least we die doing the right thing" 
(Yah anda benar, namun setidaknya kami mati dengan melakukan hal yang benar) 

Lagi-lagi saya tertegun.

Rapat negara bawah laut pertama di dunia.
Sumber: http://www.worldculturepictorial.com/blog/content/worlds-first-underwater-cabinet-meeting-maldives-min

Film ini toh tidak melulu berisi negosiasi politik perubahan iklim, ada banyak kelucuan-kelucuan yang muncul. Sang presiden yang kocak dan komentar-komentar nya yang slenge'an kerap mengundang tawa. Film ini adalah film dokumenter yang meliput keseharian sang Presiden dan perjalanan politik serta negosiasinya menuju ke Copenhagen. Sayangnya, sang Presiden digulingkan oleh militer di bulan Februari 2012 dan saat ini sedang dikejar-kejar oleh Pemerintah Maldives. 
A video conference with Presiden Nasheed, live from Wellington 
Ternyata kejutan tidak hanya berakhir di sini. Setelah pemutaran film, nampaklah sosok yang sangat kami kenal, sang pemeran utama film ini, Bapak Mantan Presiden Maldives: Mohammed Nasheed. Seperti yang saya duga, dia benar-benar sosok yang kocak namun tegas. Dengan rendah hati Nasheed merendah bahwa dia tidak memiliki andil yang berarti di Copenhagen. Visinya akan demokrasi di Maldives tidak berhenti hanya karena ia digulingkan. Cita-citanya akan Maldives yang berdemokrasi dan selamat dari kekejaman alam dan manusia sangat jelas nampak. Mimpi dan harapannya tidak pernah padam. 

The Island President bukan hanya tontonan biasa akan tetapi tontonan yang akan mengajak kita melihat tempat lain di dunia yang ternyata terancam oleh kerusakan yang kita lakukan. Film ini juga menunjukkan kegigihan seorang pemimpin yang rela melakukan apapun demi keselamatan rakyatnya. Nasheed bukan sosok pemimpin yang hanya bisa prihatin, dia prihatin, belajar dan beraksi langsung untuk keselamatan rakyatnya. Sebuah film yang wajib ditonton. Sangat menghibur dan sarat akan pesan.

Testimoni: 

Beberapa komentar teman-teman Maldives setelah menonton film ini: 
Nasheed a.k.a Anni 

"I am a big fan of him, and I voted him in the last election and I only want to vote for him" 
(Saya adalah fans beratnya (Nasheed). Saya dulu memilih dia dan saya hanya akan memilih dia) 

"Apart from the political story, the movie was superb" 
(Terlepas dari cerita politiknya, film ini keren banget) 

"He is still my president..........." 
(Dia (Nasheed) masih presiden saya.....)

Trailer the Island of President



40 comments:

agustinriosteris said...

Baca tulisan ini memantik ulang ingatan tentang kisruh regenerasi pemimpin negeri kita yang mandeg... Disini saya melihat satu lagi bukti bahwa Pemimpin yg tegas bukanlah pemimpin yg ganas, tapi yg bisa memecahkan persoalan dgn cepat, tepat, buat rakyat. Dan Masa depan, problem tantangannya makin cepat datang. Yg akan lebih mudah menghadapinya adalah pemimpin yg muda.

Indonesia perlu banyak belajar dari maldives..

Btw, harus ksana nih sebelum negara itu hilang hhehehhe

Deeneez said...

Seriuosly liat tulisan ini ngebayangin di daerah Sulawesi Selatan Bisa terbentuk negara juga, Taka Bonerate di Selayar hahahaa, percisssss

Cipu said...

Rio, setuju.... kayaknya kita kudu ke Maldives sebelum Maldives tinggal nama (hope not)

Cipu said...

Pasti Hamka yang mau nyalon jadi presidennya Taka Bonerate :D

p49it said...

"Yeah, ... But at least we die doing the right thing" --> ada visi dan aksi, tidak hanya sekedar prihatin :(

Tulisan yang bagus, Cipu.

cipu said...

Makasih kakak Pagit.... Film nya keren bgt, wajib ditonton

Meutia Halida Khairani said...

i'm touched. huuhuuuhuuu.. keren bgt cipu... masih ada yah presiden yg seperti ini di dunia.

if i could also vote for him

indonesia harus menonton film ini

arqu3fiq said...

Wah film bertema politik. Dan hebatnya mantan presiden yang jadi pemainnya. Kira-kira dialognya berat nggak? kalau sampai mikir gitu rasanya males banget lihat film yang berat.

cipu said...

Iya Mut... Asli orangnya gokil abis dan langsung ngomong kalo emang ngerasa ada yang ingin diomongin. Visi politiknya jelas.... very green

cipu said...

pengambilan gambar memang dilakukan saat beliau menjabat presiden, ini dokumenter soalnya jadi ga perlu pake script

Blog Keperawatan said...

Terima kasih sahabat atas berbagi pengetahuannya ini dan jadi lebih mengenal akan negeri Maldives ini.

Salam kenal dan salam persahabatan....

Elsa said...

Nah, Sang President sekarang dimana??
kok dikejar kejar pemerintah maldives?

dimana bisa lihat filmnya ya... film beginian kan wajib tonton, setidaknya bisa merubah diri sendiri menjadi lebih green

baca tulisan cipu aja merasa tersentuh...
apalagi nanti kalo nonton sendiri filmnya

Rhiena Muliawan said...

gud job Cipu, salah satu bukti kalo perubahan iklim itu adalah menyangkut kemashlatan umat banyak. I should see this movie. Seandainya kita bisa pemimpin dgn spirit minimal sama dengan beliau yah.. Indonesia pasti akan jauh lebih menyenangkan

Susanto said...

Keren, Pu. Tulisannya dan filmnya. Semoga pemimpin-pemimpin kita menonton film ini dan terinsprasi untuk berbuat sama. Menunggu hari dimana hal itu menjadi kenyataan...

cipu said...

Sang Presiden sekarang sedang di Wellington sampai tgl 30 Mei, katanya akan kembali ke Maldives, meski dia lagi dicari pemerintah sono.

Dia dikejar-kejar dengan alasan: teroris dan minum alkohol.... entah nyambung nya dimana

cipu said...

Iya kak, I adore his negotiation skill... I admire how he incorporates science in all of his climate policy

cipu said...

Let's keep our hope high, To. Thanks for visiting anyway, Jones Street is looking for you

Goiq said...

waaah gara-gara baca postingan ini aku sampe googling kenapa dia digulingkan militer loh...

Mila Said said...

oooh jd dia semacam perpaduan antara Al Gore nya Maldives dan Xanana Gusmao nya maldives ya? heheheee...
Film kayak ginian biasanya susah disini nih, klo ga masuk bioskop. Pdhal pengen nonton -_____-"

dea said...

waaaa ikut nyimak aja ! :D

Cipu said...

Dia digulingkan oleh angkatan bersenjata yang masih loyal pada pemerintah sebelumnya. Saat ini, Nasheed sedang roadshow untuk mengkampanyekan Demokrasi di Maldives

Cipu said...

GUa lagi nunggu DVD nya keluar, ntar kita nonton bareng

Indra P. Nugraha said...

Kereeennn... Itu acara kampus ya? Gw jadi tambah kepengen ke Maldives euy gara2 ngeliat foto sama trailernya.

intan rawit said...

waawww masih muda banget yah pak mantan presidennya! Kereeen...sumpah deh idola banget, coba di Indonesia ada tokoh kayak gini yah!Aku daftar jadi fansnya juga! hehe

Jadi tau ternyata di balik keelokan Maldives menyimpan cerita yang cukup tragis yah...semoga keelokan Maldives akan terus terjaga selamanya, dan para negara2 besar itu jadi sadar untuk nuruin kadar emisi gasnya dengan sukarela

merry go round said...

Sadiisss Cipu... Sadis tulisannya, sadis reviewnya, sadis film yg dibahasnya. Review film gue langsung ga ada nilainya gitu kalo dibandingin sama tulisan ini :((((

Cipu said...

Sama, entah kenapa tiba2 gua langsung ingin memprioritaskan Maldives sebagai negara yang ingin gua kunjungin.

Cipu said...

Bener, presidennya keren banget. Semoga nanti di Indonesia ada yang bisa seperti dia....

Cipu said...

hehehe basa basi yah Non :D

Herfina said...

Cipu thx for sharing, jadi pengen liat filmnya. Dan hayuk, mari kita bersama-sama melancong ke Maldives :)

d3vy said...

gilee... bahasa lo udah kyk reviewer pelm propesional , mantab!

Mayya said...

Wah, disini tayang gak yah filmnya?
Kayaknya kereeeen deh!

Indonesia entah kapan nih, soalnya generasi muda-nya banyak yang sibuk jadi boyband dan alay >_<

Nelda said...

Tumben serius postingannya hehe... tapi asli, makasih ya menambah pengetahuan gue yg terbatas. Tapi kalo ke Maldives, gak udah tinggal di resornya ya :)

Lestari News said...

presiden kita ada yg kayak di film tu gak ya?

yadibarus said...

terima kasih pals atas sharing ilmunya. jadi nambah pengetahuan luar negeri nih.

outbound malang said...

kunjungan gan .,.
Menjaga kepercayaan orang lain lebih penting daripada membangunnya.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

Kontraktor said...

nice post...

hanung said...

bagus ne kliatannya

redo said...

nice movie ne kliatannya

baju busana muslim said...

meski saya tidak terlalu mengerti dengan topik yang dibicarakan , tapi secara keseluruhan topiknya menarik, makasih ya sdh mau berbagi

pulsa said...

gila, keren bgt nih pulau, mantepp !!

Our Team

Video of the Day

Contact us

Name

Email *

Message *