Kindle dan Reading Challenge 2017

Dulu-dulu, saya termasuk anak muda yang rajin baca (cieeeh). Dan bacaan saya lumayan banyak, meski judulnya mahasiswa teknik, saya malah sering kedapatan baca buku sastra daripada baca buku mekanika teknik atau perencanaan jalan. Tapi itu dulu, belakangan ini saya merasa sangat malas baca buku, dan salah satu penyebabnya adalah kehadiran smartphone, yang membuat saya lebih rajin ngecek whatsapp, mengupdate dan mengecek media sosial, ketimbang membuka buku dan membacanya. Info-info yang berseliweran di sosial media sepertinya terlalu menarik untuk dilewatkan. Jadilah saya seorang social media junkie yang jarang baca buku. 

Beruntung saya punya istri yang rajin membaca, dan beberapa teman kantor yang ternyata rajin memberi review di goodreads. Dari mereka saya kembali beroleh semangat membaca. Sebelum tidur, biasanya istri menyempatkan membaca beberapa halaman atau bab dari e-reader Kobo nya. Sementara di kantor, teman-teman saya yang hobi baca buku kerap bertukar info tentang buku-buku yang mereka baca. Banyak teladan yang bisa dicontoh. 
My Kindle and my wife's Kobo
Untuk bisa mencari referensi buku yang menarik untuk dibaca, saya kembali membuka akun goodreads saya yang sudah lama tidak diperbarui. Saya mencari referensi buku yang kira-kira asyik untuk dibaca dan ternyata goodreads setiap awal tahun menantang membernya untuk ikut Challenge Reading. Saya dengan senang hati ikutan untuk Challenge Reading 2017. Saya sih gak muluk-muluk mau baca banyak, saya menargetkan untuk bisa menyelesaikan 15 buku berbahasa Inggris di tahun 2017, jadi sekitar satu seperempat buku setiap bulan. Pilihan bukunya pun bisa macam-macam, dan kalau bisa sih bukan yang berat-berat (kebayang baca buku filsafat dalam Bahasa Inggris). Sebagai penyemangat, saya memasang widget Reading Challenge 2017 di blog biar jadi pengingat target membaca.
Goodreads Reading Challenge 

Untuk mengakomodasi target saya, saat ini saya memang memiliki e-book reader bermerk Kindle. E-book besutan Amazon yang dibandrol dengan harga dibawah 100 dollar. Di Indonesia, Kindle dipasarkan dengan berbagai tipe, namun pilihan saya jatuh pada Kindle paling murah. Saya membeli Kindle saya di akhir tahun 2015 di bukalapak dengan harga 1,5 juta Rupiah (untuk tipe ini harga di Amerika sekitar $80). Sejak 2015, kebiasaan membaca saya terlampiaskan melalui Kindle ini. Ada beberapa hal yang membuat saya cinta dengan Kindle: 
  1. Membaca dengan Kindle serasa membaca buku biasa. Fitur e-ink yang digunakan Kindle di layarnya membuat mata tidak gampang lelah saat membaca. Berbeda dengan saat membaca dengan tablet atau smartphone, dimana pendar layarnya bisa membuat mata lelah. 
    Perbandingan layar kindle (kiri), buku biasa (tengah) dan tablet (kanan)
  2. Kindle memang dikhususkan untuk mereka yang mau membaca, sehingga Kindle tidak memberi banyak ruang untuk sosial media atau aplikasi lainnya. Dengan minimnya aplikasi dalam Kindle, saya jadi bisa berkonsentrasi membaca tanpa terganggu dengan adanya pesan yang masuk. 
  3. Kindle adalah besutan Amazon, dan e-book yang dijual di Kindle Amazon sangat banyak dengan harga yang tentunya di bawah harga buku biasa. Bahkan kerap Amazon menjual buku dengan harga $2 dollar. 
  4. Buku-buku yang dibeli di Amazon Kindle akan tersimpan di akun Kindle Amazon kita, dan kita bisa memasukkannya ke dalam Kindle dengan mudah, hanya butuh wifi. Selain itu, e-book gratisan yang banyak beredar dapat dengan mudah dikonversi ke Kindle. 
  5. Kindle dilengkapi dengan in-built dictionary yang memudahkan orang-orang ber kosakata Inggris terbatas seperti saya. Saya cukup menekan kata yang artinya tak saya ketahui di layar dan definisinya akan segera muncul. Hal ini benar-benar membantu saya menyelesaikan buku-buku yang saya baca. Jika kata yang saya tekan tidak ditemukan di kamus, maka kindle akan mencoba mencarinya melalui wikipedia (fitur ini dapat dilakukan jika ada kindle tersambung ke wifi) 
    Perbedaan Kindle dan Tablet (diunggah dari https://www.amazon.com/Amazon-Kindle-Paperwhite-6-Inch-4GB-eReader/dp/B00OQVZDJM)
  6. Kindle yang saya punya hitam putih, ringan dan bisa menampung banyak buku. Membuka Kindle serasa membuka buku biasa. Font nya pun bisa disesuaikan jenis dan ukurannya sesuai selera. Kemampuannya menyimpan file buku dalam jumlah banyak membuat kita tidak perlu pusing lagi untuk memikirkan penyimpanan buku di rumah. Save space, save tree and save environment lah.  
  7. Baterai Kindle bisa tahan berminggu-minggu, jadi tidak perlu khawatir jika akan travel ke tempat yang sulit listrik. Kindle cukup di charge beberapa jam dan tahan untuk dua minggu. 
Beberapa minggu yang lalu saya yang tiap pagi langganan ke warung dekat rumah, kebetulan membawa Kindle dan mulai membaca Kindle di warung tersebut sambil menyeruput kopi susu sachet-an (biar mirip anak-anak gaul yang nongkrong sambil minum kopi gitu). Lagi asyik membaca, si mas penjaga warung rupanya mengamati. Mungkin karena penasaran dan ga tahan, dia akhirnya nyeletuk, "Mas, itu tablet nya kok hitam putih sih. Sekarang kan tablet semuanya udah warna". 

"Oh iya mas, saya memang pake ini cuma buat baca aja. Saya nda punya tablet lain, adanya ini doang sama hape", balas saya. 

"Oh ini tablet lama yah mas, masih hitam putih gitu. Yang modern kan pastinya udah warna", kata si Mas Penjaga Warung. 

Malas debat, saya cuma balas, "Iya mas, ini keluarnya bareng sama Nokia 3310". 

So wish me luck with my reading challenge yah. 

Comments

Goiq said…
cobain deh baca di aplikasi iJakarta Cip. ada ribuan ebook yang bisa dibaca gratis
AuL Howler said…
Good luck!

Wah aku udah lama gak ikutan reading challenge wkwkkw

Makin malas bacaaa

Wuih aku baru tau deh ada ebook reader kayak gini
Jadi pengen punya juga tapi lebih pengen lagi punya buku beneran wkwkw
Cipu Suaib said…
Makasih Goiq akan dicoba aplikasinya. Semoga ebooknya bisa di konversi ke Kindle yah. Makasih udah mampir
Cipu Suaib said…
Iya memang butuh lingkungan yang mendukung kalau mau kembali membaca Aul. Ayo hunting buku lagi
CatatanRia said…
wkwkwk gw mau donk tablet keluaran bareng 3310 belinya dimenong ikh :)) kepo jg ya si penjaga warung
dari taun kapan pengen beli kindle selalu kensel gegara mikir di tab juga bisa baca-baca, baca di tab malah godaanya berat, baca ebook bentar notif dari medsos masuk 😂
djourney said…
sudah 2 tahun berturut-turut gagal dengan reading challenge-nya goodsread. Tahun ini mencoba lagi. Semangat!!!!
djourney said…
emang bener, smartphone dengan sosmed-nya godaan terbesar untuk membaca.
setelah 2 tahun berturut2 gagal dengan reading challenge, tahun ini kembali berusaha mencapai target reading challenge.
Gw perna dapat kindle ini tapi ribet registrasi dll nya, ujung2 nya gw jual hehehe
d3vy said…
bisa unduh buku bacaan anak2 juga ngga?
sepertinya gw mulai teracuni hihihi
pengen tapi kayaknya gacocok soale suka lempar2:(
gw pernah dititipin kindle sewaktu ke jepang dulu. tp belinya yg kindle fire krn lg diskon, hihihi. udah lama nih ngga khatam baca buku.
Mila Said said…
header blog lo sejak kapan berubah?
d3vy said…
akooh blm punya kindle :'(

Popular Posts