Belajar Berlari (dari kenyataan)

Hiatus beberapa bulan membuat saya sedikit merasa bersalah. Ada beberapa komen komen yang masuk yang tidak sempat saya moderasi saking jarangnya saya membuka blog. Tidak hanya itu, saya juga jarang melakukan ritual blogwalking saya, ah saya memang blogger yang payah. Sebenarnya ada banyak hal yang telah saya niatkan untuk di-blog-kan tapi mood menulis memang tak kunjung datang, terlebih menjelang tutup proyek kantor saya selama Desember dan Januari. Sibuk plus gak mood memang kombinasi sempurna untuk hiatus nge-blog. 

Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang hobi yang baru saya geluti selama sebulan lebih, yaitu LARI. Sejak 25 Desember 2014, saya memulai belajar ber-"lari". Berawal dari sebuah gadget bernama nike watch plus GPS besutan Nike bekerjasama dengan Tomtom, yang dihadiahkan oleh kakak saya, kebiasaan lari itu dimulai. Awalnya saya hanya memakai jamnya untuk aksesoris saja, hitung hitung belajar menggunakan jam tangan (FYI, sebelum sebelumnya saya tidak suka menggunakan jam tangan). Setelah browsing tentang kemampuan jam tangan nike ini, saya jadi berpikir, sayang juga kalau jam tangan penuh fitur ini tidak dimanfaatkan. Pada tanggal 25 Desember 2014, saya mulai menjajal jam tangan nike baru saya di sekitar rumah dan percobaan lari pertama berakhir di 2,32 km dalam waktu 15 menit. Meski ngos-ngosan serta betis dan paha rasanya mau pecah, ada rasa puas dengan pencapaian pertama ini. Saya jadi ingin mencoba lagi. Untungnya akhir Desember penuh dengan long weekend, jadi kesempatan untuk belajar lari banyak. Ditambah lagi, saya memang tidak memiliki rencana liburan kemana mana menjelang natal dan tahun baru. Akhirnya, saya memilih belajar berlari.
Nike Sportwatch GPS

Pelan tapi pasti, jarak yang saya tempuh makin jauh. Frekuensi lari saya usahakan tiga kali seminggu. Betis dan paha saya kerap protes dengan rutinitas ini, namun pelan pelan protes dari betis dan paha makin berkurang seiring dengan makin nyenyak nya saya tidur dan makin berkurangnya insomnia saya, oh iya tak lupa ucapan terima kasih pada salonpas gel yang baunya enak dan efek dinginnya yang maknyes. Pelan-pelan jarak tempuh saya menembus 4 km, lalu 6 km, 8 km, hingga 10 km. Sempat kaget juga bisa nembus 10 km dalam kurun waktu sebulan. 

Yang menjadi pendorong lain saya untuk terus lari adalah aplikasi nike running yang juga saya sambungkan dengan nike watch saya. Aplikasi ini tidak hanya berfungsi untuk mencatat jumlah lari, jarak lari, kecepatan lari dan jumlah kalori, aplikasi ini juga berfungsi sebagai sosial media bagi para penggemar lari. Nike running menjadi semacam facebook buat para penggemar lari untuk saling kenal.  Berita baiknya, kita tidak wajib punya jam tangan nike untuk bisa menggunakan aplikasi nike running, pengguna android dan iphone pun bisa menggunakan nike running tanpa perlu membeli produk produk nike.
The shoes are tempting 
Aplikasi ini membuat klasemen mingguan dan klasemen bulanan antara pelari yang menjadi teman kita (friend list) di nike running. Klasemen inilah yang kerap mendorong saya dan teman-teman pengguna nike running untuk berkompetisi virtual mencapai jarak terjauh. Berita baiknya, nike running terhubung dengan media sosial seperti Facebook, Twitter dan Path jadi para penggunanya dapat sedikit bernarsis ria di sosial media tentang kegiatan larinya. Gak papa kan narsis untuk kegiatan positif dan membakar kalori seperti ini, daripada narsis selfie pake monyong-monyongin bibir, itung-itung mendorong teman teman lain untuk mulai berlari.

Persaingan antara pelari kerap dibumbui dengan candaan candaan di sosial media saat teman teman mengunggah hasil klasemen mingguan dan bulanan ke media sosial. Mungkin inilah pentingnya running buddy, meski sifatnya virtual dan tidak bisa secara fisik lari bersama kita, teman-teman di nike running mampu memberikan semangat melalui klasemen lari mingguan dan bulanan serta postingan postingan berbau lari via media sosial. 
Klasemen Bulanan Nike Running

Nah bagi teman teman yang ingin belajar berlari seperti saya saat ini, berikut beberapa catatan/masukan/saran dari saya: 
  1. Komitmen untuk meluangkan waktu. Modal utama untuk berlari adalah komitmen. Tanpa komitmen, tentunya kegiatan lari tidak akan bisa dilaksanakan reguler. Bagi yang ingin memulai, bisa mengalokasikan waktunya dua kali dalam seminggu. Jika sudah ketagihan, bisa menambah frekuensi menjadi tiga kali dalam seminggu. Mungkin memberikan reward untuk diri sendiri jika komitmen dapat dijalankan dalam kurun waktu tertentu bisa menjadi salah satu cara untuk tetap istiqamah berlari. Saya berharap komitmen saya bisa tetap bertahan lama, bisa terus lari dan bisa mengajak teman teman untuk lari. 
  2. Menemukan Motivasi. Motivasi awal saya berlari berawal dari ejekan anak teman saya yang singkat dan lugas. Kalimat "Bunda, perut om Cipu gede yah" yang diucapkan oleh anak umur 3 tahun itu benar benar makjleb. Saya menjadikan lari sebagai kegiatan untuk mengeluarkan keringat sembari berharap efek sampingnya bisa ke pengecilan lingkar pinggang. Setelah sebulan lari, sepertinya memang ada perubahan lingkar pinggang, lingkar pinggang makin kecil yang ditandai dengan penggunaan ikat pinggang yang mundur satu lubang. Selain itu, beberapa teman-teman blogger dan media sosial (Mila Said, Goiq, dan Radit) sering mengupload foto foto track lari yang mereka lalui atau event lari yang mereka ikuti yang membuat saya penasaran. Setelah mencoba lari, saya jadi bisa menyelami perasaan puas yang mereka rasakan saat selesai lari dan mengunggah foto foto lari mereka ke media sosial. Motivasi juga kerap saya temukan melalui video video lari di youtube, berikut video favorit saya: 
  3. Pemanasan itu penting. Awal-awal berlari, saya langsung tancap gas tanpa melakukan pemanasan. Walhasil, saya kerap merasa sakit di beberapa bagian tubuh khususnya di bagian bawah tubuh. Berkat om google dan om youtube, saya jadi belajar pentingnya pemanasan untuk meminimalisir dampak cedera saat berlari. Berikut video youtube tentang rutinitas pemanasan yang saya contek sebelum berlari. 
  4. Mencari running buddy. Memiliki running buddy itu penting, agar lari bisa makin jauh dan makin semangat. Jika memang sulit untuk menemukan running buddy yang bisa menemani berlari bersama, ada banyak media sosial yang biasa digunakan oleh para penggemar olahraga lari. Mulai dari nike running, endomondo, my running map dan sejumlah aplikasi lainnya. Teman-teman saya di nike running benar-benar membantu saya untuk terus berlari dan berkompetisi mencapai jarak terjauh di klasemen lari kami. 
  5. Running Gear. Peralatan lari tak kalah pentingnya. Saya pernah mengalami  rasa sakit di punggung bagian bawah setelah berlari. Ternyata, penyebabnya adalah penggunaan sepatu yang kurang tepat. Awalnya, saya menyangka bahwa semua sepatuh olahraga cocok untuk berlari, ternyata anggapan saya ini keliru. Saya pun mulai mencari sepatu khusus untuk berlari. Setelah menggunakan sepatu khusus untuk lari, rasa nyeri di punggung bagian bawah sudah tidak terasa lagi. Meski harganya agak mahal, saya ikhlas (sambil melirik dompet). Selain itu, semakin jauh berlari, kebutuhan akan running gear lain juga bertambah. Butuh ini lah itu lah. Kalau pendapat pribadi saya, jika memang diperlukan kenapa tidak? Hitung hitung investasi kesehatan kan? 
    My running gear
  6. Play your workout songs. Saya sangat bergantung pada musik saat berlari. Untuk keperluan lari, saya selalu memilih lagu lagu yang upbeat dengan ketukan cepat, dengan harapan agar saya bisa bersemangat untuk lari jarak jauh. Kerap saya memasukkan beberapa lagu dangdut house music ke ipod saya untuk memberi suasana ceria saat lari, and it usually worsk. Saya sering senyum sendiri saat berlari ketika ipod saya memutar lagu dangdut house music.  Sisanya, saya banyak menggunakan lagu lagu body combat yang memang bertempo cepat. 
  7. Stay Hydrated. Untuk lari dengan jarak di atas 5 km, penting untuk mengkonsumsi air saat berlari. Biasanya setelah berlari beberapa km, keringat sudah pasti mengucur deras dan membasahi pakaian. Usahakan untuk membawa air minum secukupnya yang bisa membantu kita  tetap segar meski telah berlari cukup jauh. Saya sendiri masih belum menemukan running gear yang pas buat membawa air minum. Botol-botol minum yang tersedia di toko toko umumnya masih terlalu besar untuk dibawa lari. Bagi yang punya info tentang tempat membeli kantong air (water pouch) ukuran kecil, tolong kabari saya yah.
  8. Narcissism is not a sin. Narsis setelah lari menurut saya bukan hal yang salah. Sah sah saja mengunggah track lari, running gears dan artikel artikel lari ke media sosial. Sedikit (banyak) narsis di media sosial justru mendorong beberapa teman-teman saya untuk mulai berlari dan mengajak teman teman lainnya.
    Pamer hasil kerja keras bukan dosa kan?
    Bukan Riya juga hehehe 
Semoga saya bisa istiqamah di dunia per-lari-an dan semoga teman-teman yang lain bisa mengambil hikmah dari tulisan saya (ealaaaahhhh kayak penceramah yah). 

Running has never failed me to give great end result, and that's why I keep coming back for more 
(Sasha Azevedo, katanya aktris - saya sendiri gak kenal) 

Comments

Goiq said…
Semangat Cipu... Lari itu menciptakan dunia tersendiri kok Cip. Btw gw juga pengalaman soal sepatu. Jadi pas baru mulai lari gw beli beberapa sepatu. Ternyata salah satu bikin nyeri di tulang kering pas dipake lari. Akhirnya jarang dipake. Pas daftar trail running baru tau kalo trail run ada sepatu tersendiri. Pas bongkar koleksi sepatu lari, ternyata sepatu yang bikin nyeri tulang kering ternyata adalah sepatu trail run. Dan pas dipake ngetrail enak dan mantep banget. Senangnya jadi ngga perlu beli sepatu trail lagi :))
Goiq said…
btw, kalo mo beli botol air yang di pinggang, Cipu bisa beli di website sukaoutdoor
ReBorn said…
bagus juga motivasi larinya: karena ada sportwatch :p
lovelydebz said…
disini kalo lari gearnya lebih banyak...apalagi kalo salju kudu pake alas kaki biar nggak terpeleset..dan baju running astronot biar nggak kedinginan..tapi enaknya abis lari nggak ada jajanan ;)
cipu said…
Goiq, aku sudah punya sepatu trail, cuma gak kunjung dipake hahahahaha
cipu said…
Iya mas, mungkin kalo gak dapat itu, saya belum lari lari nih sekarang
cipu said…
Tante Debz, aku pengen nyobain lari di salju. Ah semoga kesampaian ke Edmonton yah......
merry go round said…
Cipu sekarang keliatan kuyusan looohhh berkat hobi barunya ini. Gue juga sekarang jadi suka lari, tapi belum pernah nembus angka lebih dari 5K. Biar deh ya, yang penting lari *pembelaan*
mila said…
wuih gear lari nya kereeennn.
gw lagi nabung mau beli Garmin sportswatch, bisa buat lari - sepedaan - berenang.
Lita said…
Pernah nyoba lari, Pu. Tapi malah mual dan muntah-muntah. emang sih nggak boleh nyerah, tapi kayanya lari bukan jadi olahraga favorit, jadi balik lagi ke nari. Hehehe. Gimana pun itu, olahraga itu penting biar badan tetap bugar...
Semangat larinya ya, Cipu. Semoga bisa lebih jauh lagi...
Nelda said…
Udah lama juga sih gue nggak berkunjung ke sini. Wah, seru juga ya lari. Salah satu olahraga yg sampai sekarang gue belum ada keinginn utk memulai hehe...belakangan ada tugas sekolah ngeliput kejuaraan olahraga di sini jadi muncul antusiasme berolahraga krn melihat fasilitasnya di sini. Gak heran sptnya hampir semua org ngelakuin olahraga di sini. Yah ntar deh kalo gue mulai sesuatu gue blogging hehehe anyway, semoga larinya berlanjut! :)
DIJA said…
Om Cipu, Dija gak suka lari.
kalo Om Cipu lari...sambil gendong dija, gimana??
Dija numpang aja gitu maksudnya
Sarah said…
hahaha...lari dari kenyataan ya, sama capenya dengan lari 10K kali.. Kenapa kalau kita baru memulai lari (setelah lama tak lari) trus semangat larinya, malah kepala jadi pusing, mual, dan muntah-muntah? Kaget mungkin ya..
Sarah said…
Larinya jangan terlalu semangat kalau pelari pemula, nanti malah pusing, mual, dan muntah...
Nissa said…
Olahraga Lari sekarang ini memang sedang Tren mulai dari artis, pejabat, sampai seluruh masyarakat. Semangat mas Cipu!
hotbuy said…
larinya santai aja, jangan tergesa-gesa, nanti terpeleset malah jatuh :p
Adie Riyanto said…
Waaaaah, mz, tipsnya aku copas di kolom komentarku ya. Semoga berkenan :)

Popular Posts