Menjadi Weekend Warrior

Menyambut kedatangan anak pertama yang disambung dengan mendapat kerjaan baru tentunya sangat merubah ritme hidup saya akhir-akhir ini. Kelahiran anak pertama saja sudah membuat saya harus sering begadang untuk membantu istri menenangkan si bayi kalau sedang rewel. Kompensasinya biasanya di nyari cemilan malam malam di dapur saat si bayi sudah kembali terlelap. Beberapa hari terakhir juga saya pindah kantor di Kawasan Sudirman yang mengharuskan saya harus berangkat sebelum pukul 06 pagi dari rumah agar bisa tiba di kantor baru sekitar jam 8 an. Namanya karyawan baru, yah harus sebisa mungkin tepat waktu kan? Sebelumnya di kantor lama, saya bisa datang lebih telat (baca: pukul 09.30-10.00) dan pulang lebih awal (baca: pukul 16.00). Di kantor lama prinsipnya: kalau datangnya saja sudah telat, jangan sampai pulangnya juga ikutan telat, biar gak ngulangin dosa dua kali hahahaha. 
the baby box
Dengan perubahan jam tidur dan perubahan jam kerja, plus hobi baru ngemil tengah malam dan kantor baru yang penuh dengan makanan, rasanya sulit untuk bilang kalau saya makin sehat. Alih alih makin sehat, kok rasanya saya makin makmur, terbukti dengan beberapa celana yang sudah tidak muat di perut. Sebenarnya sih masih muat, cuma memang harus dengan berbagai daya upaya. Jika terus-terusan seperti ini, saya jadi khawatir juga rentan dengan penyakit-penyakit orang kaya (halah). Dulunya saya masih bisa dengan leluasa untuk lari tiga kali seminggu serta berenang minimal sekali seminggu. Namun, dengan semua perubahan di atas, saya makin tidak memiliki waktu untuk melakukan olahraga rutin saya. 

Iseng-iseng googling, saya menemukan istilah weekend warrior. Dalam kamus online Merriam-Webster, weekend warrior itu adalah "a person who participates in a usually physically strenuous activity only on weekend or part-time" alias mereka yang melakukan kegiatan fisik hanya pada saat akhir pekan. Menjadi weekend warrior merupakan salah satu tren kaum urban belakangan ini yang tidak memiliki cutup waktu untuk berolahraga. Waktu akhir pekan menjadi saat yang paling pas untuk melampiaskan kalori-kalori (baca: membakar lemak) yang masuk selama hari kerja. Meski saya adalah warga desa Limusnunggal di Cileungsi (bukan kaum urban), saya merasa weekend warrior bisa menjadi opsi yang pas untuk tetap berolahraga di tengah padatnya jadwal kerja (tssaaah). 


eat swim run, repeat
Saat memilih menjadi weekend warrior, berapa lama sih waktu yang diperlukan oleh tubuh untuk berolahraga? Mungkin hitungan waktunya nggak perlu dibandingkan dengan teman-teman gym addict yang tiap hari ke gim dengan durasi 2 jam per hari. Kebayang kalau mau ngikutin hitungan waktu seperti itu, artinya setiap weekend harus olahraga 10 jam. (Saatnya mengibarkan bendera putih). American Heart Association menganjurkan untuk melakukan kegiatan aktif selama 150 menit (2,5 jam) dalam seminggu. Dengan menggunakan waktu 150 menit aktifitas olahraga sedang di akhir pekan, seseorang sudah dapat meminimalisir risiko terkena penyakit jantung dan kanker hingga 30%-40%. Link berita dapat dilihat disini.

the weekend warriors
Meski sudah tak bisa seekstrim dulu kegiatan olahraganya, yang terbaik yang saya bisa lakukan saat ini adalah dengan menjadi weekend warrior. Saya cukup mencari waktu di akhir pekan untuk olahraga rutin saya: renang dan lari, atau olahraga tidak rutin saya: senam zumba bareng bapak bapak dan ibu ibu kompleks tiap hari Minggu. Kuncinya adalah 150 menit bergerak aktif dalam seminggu. Selamat menikmati akhir pekan, semuanya. 

Comments

Mila Said said…
Badan gw juga remuk sekarang bolak-balik cileungsi... itu jauuuhh bangeettt....
2 bulan lagi..hiks.
luke! said…
Lahir mi kah?
Selamat menyambut kedatangan anggota kelaurga baru mas bro....all those sleepness nights are already waiting for you! :)
d3vy said…
"kalo datang sudah telat jangan sampai pulangnya ikutan telat" gw banget ituhhh hahahha

btw, selamat Cipu...sudah jadi ayah.... ^^

Popular Posts