Jalan Terusan Timur Raya di kota Kupang cukup lengang pada suatu Minggu di pertengahan Mei 2025. Semalam sebelumnya, saya, yang lagi ada tugas kantor ke sana, sudah bertekad untuk jogging pada hari Minggu. Saya berniat menyusuri jalur pantai di Kupang sekaligus membakar lemak dan kolesterol dari boga bahari enak yang menjadi menu utama saya selama di Kupang. Apa daya, di hari Minggu itu, saya tak jadi jogging pagi, malah langsung mampir di sebuah warung padang yang punya menu lontong sayur enak dengan pemandangan pantai yang syahdu. Semoga niat jogging semalam sebelumnya sudah bernilai pahala. Sehabis sarapan, saya berjalan santai menyusuri trotoar seberang Hotel Aston tempat saya menginap. Pemandangan pagi di tempat ini memang bikin hati tenang, terlebih setelah perut disumpal dengan lontong sayur.
The Intro
Sembari menyusuri trotoar, tak jauh di depan saya, ada sepasang wisatawan yang nampak berbincang dengan warga lokal yang sepertinya sedang menawarkan jasa tour guide. Dari gerak tubuh kedua wisatawan ini, mereka sepertinya sedang bingung. Saya yang lagi kurang kerjaan, tentu saja ikutan nimbrung sambil tanya-tanya mereka darimana, mau kemana, ada perlu apa dan pertanyaan basa basi lainnya. Dari percakapan awal kami, saya tahu mereka bernama Alex dan Geraldine, mereka wisatwan dari Jerman.
![]() |
| Kupang, Jalan Terusan Timur Raya |
Setelah beberapa cakap, saya jadi tahu mengapa mereka kelihatan galau. Rupanya mereka sedang transit di Kupang selama beberapa jam untuk melanjutkan perjalanan ke Bali/Lombok. Sebelumnya mereka menghabiskan beberapa hari di Flores. Selama di Flores, beberapa kali mereka harus mengubah rencana perjalanan karena hujan yang terus turun. Setelah mengecek prakiraan cuaca, mereka melihat bahwa ternyata cuaca di Lombok beberapa hari ke depan juga akan hujan, dan mereka berniat untuk tidak lanjut ke Lombok khawatir rencana liburan ke sana juga dibuyarkan oleh hujan. Alih-alih ke Lombok, Alex dan Geraldine ingin mengubah destinasi ke Rote, yang cuacanya diperkirakan cerah. Sayangnya, tiket mereka ke Lombok belum dibatalkan dan bagasi mereka juga masih transit di Bandara El Tari, Kupang. Mereka masih punya waktu sekitar tiga jam sebelum penerbangan berikutnya.
Kelar mendengarkan cerita mereka, saya menawarkan bantuan ke mereka untuk mendampingi mereka ke bandara. Mereka setuju, mungkin karena wajah saya tulus dan bisa dipercaya. Bermodalkan grab car, tak lama kemudian, saya, Alex dan Geraldine sudah menuju ke Bandara El Tari. Ternyata proses pembatalan tiket berjalan lancar, Alex dan Geraldine cukup menandatangani form dan setelah itu mereka berhasil memperoleh bagasinya. Proses refund pun berjalan lancar, tak berapa lama setelah meninggalkan bandara, pengembalian dara dari maskapai sudah ditransfer.
![]() |
| Hotel Aston Kupang |
Geraldine dan Alex berhasil memesan tiket ke Rote untuk jadwal besok (Senin) pagi dan mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu semalam di Kupang. Dari keberhasilan membatalkan tiket pagi itu, saya jadi banyak berbincang dengan Geraldine dan Alex tentang latar belakang mereka, ketertarikan mereka akan alam Indonesia dan rencana mereka untuk datang lagi dan menjelajahi daerah lain di Indonesia. Geraldine ternyata aslinya berasal dari Prancis, dan saat ini memilih menetap tinggal di Jerman bersama Alex. Alex tak ketinggalan juga bercerita tentang kehidupan dan bagaimana perpindahan pekerjaan dia mempengaruhi kualitas hidupnya. Saya ikut bercerita tentang pekerjaan saya di sebuah perusahaan Prancis, yang membuat kami makin nyambung bercerita.
Setelah mulai nyambung bercerita, kami mulai saling bertukar nomor gawai. Dan mulai bertukar ID media sosial. Geraldine membagikan ID instagramnya @la.cuisine.de.geraldine . Saat saya cek akunnya, saya langsung tercengang karena follower akunnya mencapai lebih dari 500 ribu. Saat saya menyampaikan keterkejutan saya, Geraldine lanjut bercerita tentang kesehariannya sebagai food blogger, pemengaruh serta fotografer makanan yang berfokus pada hidangan Prancis modern. Saya mulai mengecek konten di instagramnya yang memang dikelola secara profesional. Unggahannya berupa foto makanan hasil masakannya serta reels yang berisi cara memasak hidangan Prancis tersaji dengan apik di Instagramnya. Saat saya mengecek followernya ternyata beberapa teman saya adalah follower dari Geraldine. Selain aktif di Instagram, Geraldine juga rajin mengupdate laman web nya di La Cuiside de Geraldine yang juga berisi berbagai resep hidangan Prancis serta berbagai jenis kue. Laman web nya pun sangat menarik karena terus diupdate dengan resep masakan baru serta gambar makanan yang pastinya sangat mengunggah selera. Tahun 2025, Geraldine juga baru saja mengeluarkan buku memasak pertamanya yang berjudul "The New French Kitchen" yang menampilkan resep resep klasik makanan Prancis dengan sentuhan modern.
Berstatus sebagai influencer kuliner dari Eropa dengan follower sebanyak itu, Geraldine sangat ramah dan boleh dibilang sangat membumi. Alex pun tak kalah ramahnya. Setelah check in di hotel, kami berpisah siang itu untuk memberikan waktu istirahat bagi Alex dan Geraldine. Kami berjanji bertemu sore hari itu untuk mencari pantai indah di sekitar Kupang.
The Trip: Pantai Tablolong
Sore itu, kami dijemput oleh mobil yang sudah kami pesan untuk mengantarkan kami ke sebuah pantai di sebelah selatan Kupang, namanya Pantai Tablolong. Berkendara lebih dari sejam meninggalkan Kupang, kami akhirnya tiba di Pantai Tablolong. Waktunya pun sangat pas, kami tiba di Pantai Tablolong menjelang matahari terbenam. Sekumpulan remaja nampak sedang asyik bermain di pantai sembari sesekali mengabadikan momen kebersamaan mereka dari gawai mereka. Pasir putih nan lembut menyapa telapak kaki kami, mendorong langkah kami menuju pantai. Rona lembayung senja membuat suasana pantai sore itu lebih syahdu, meski dengan teriakan muda mudi yang sedang bermain di sekeliling kami.
![]() |
| Senja di Pantai Tablolong |
Kehadiran Alex dan Geraldine tentunya menarik perhatian muda mudi ini. Beberapa dari mereka nampak ingin mengajak berfoto namun malu untuk bertanya. Salah seorang gadis mendekati saya untuk menanyakan apakah Alex dan Geraldine berkenan berfoto bersama mereka. Permintaan tersebut diiyakan Alex dan Geraldine, dan tak berapa lama kawanan muda mudi ini berfoto berbagai pose dengan Alex dan Geraldine. Saya? Tentu saja saya yang bertugas sebagai pengambil gambar.
![]() |
Sisa sore itu kami habiskan menikmati senja, ditemani semilir angin pantai yang menenangkan. Setelah sekitar sejam di Pantai Tablolong, senja mulai merayap menjadi malam. Perut mulai keroncongan dan saatnya kembali ke Kupang untuk menikmati kuliner yang bisa ditawarkan the Coral City (Kupang).
The Food: Pasar Malam Kampung Solor
Waktu sejam lebih untuk kembali ke Kupang membuat perut kami kian lapar. Boga bahari tentunya menjadi pilihan menarik untuk disantap selepas bermain ke pantai. Pasar Malam Kampung Solor menjadi pilihan kami malam itu, mengingat ragam jenis boga bahari yang ditawarkan dan pilihan menunya yang bervariasi dengan harga yang cukup terjangkau. Kampung Solor belum begitu ramai saat kami tiba, kami disambut oleh beberapa pemilik warung yang menawarkan tempat mereka untuk kami bersantap. Kami memilih sebuah warung di tengah, yang memajang deretan boga bahari segarnya di depan. Kami memilih ikan untuk dibakar dan dimasak dengan kuah kening, serta cumi dan udang. Aroma masakan boga bahari benar-benar menggoda saat kami duduk menunggu masakan kami selesai diolah.
![]() |
| Perut kenyang, hati riang |
Beberapa jenak kemudian, meja depan kami mulai terisi dengan ragam olahan boga bahari yang menggugah selera. Kepulan nasi di depan kami, tak kami anggurkan. Tanpa menunggu aba-aba, kami mulai menikmati hidangan di depan kami sembari sesekali memuji memuji hidangannya yang memang enak dan segar. Sambal yang disajikan juga bervariasi sehingga turut menambah selera makan kami yang memang sedang lapar saat itu. Alex dan Geraldine mencicipi semua menu di atas meja dan mereka memuji makanan yang mereka nikmati. Segarnya boga bahari yang diolah dengan resep sederhana dan dinikmati dengan sambal sedap menjadi kenikmatan sendiri malam itu. Gongnya adalah saat kami mencicipi ikan kuah kuningnya, kami semua sepakat kalau ikan kuah kuning yang dihidangkan sangat enak dan kuahnya sangat menyegarkan.
The Farewell
Setelah menikmati makan malam yang lezat. Kami segera menuju hotel untuk istirahat. Kami mengucapkan selamat tinggal malam itu, karena esok paginya Alex dan Geraldine akan bertolak ke Rote untuk menikmati keindahan Rote yang diprediksi akan cerah. Saya masih ada beberapa hari lagi jatah tugas di Kupang.
Sebelum berpisah malam itu, kami berjanji untuk bertemu di Jakarta, sebelum Alex dan Geraldine pulang ke Jerman. Beberapa hari kemudian, di sebuah siang yang mendung di Jakarta, kami duduk menikmati Ikan Tude di kawasan Dukuh Atas untuk bertemu dan bersantap sejenak.
![]() |
| Our farewell lunch |
Ternyata keputusan Alex dan Geraldine untuk ke Rote adalah keputusan yang tepat, mereka sangat menikmati hari-hari yang mereka habiskan di Rote. Tak ada hujan yang menjadi penghalang perjalanan mereka di sana. Mereka berjanji untuk kembali ke Indonesia lagi dan menikmati wilayah-wilayah menarik Indonesia lainnya.
Kami berpisah dan berharap bisa bertemu lagi. Entah saat mereka ke Indonesia lagi, atau saat saya berkunjung ke Eropa suatu hari nanti, semoga.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

