Welcome to Bangkok Coret

Dua tahun lalu, saya sempat heran dengan Taryn (teman saya dari Mexico) yang ngotot banget ke Sidrap (tanah tumpah darah saya, alias kampung saya). Alih-alih ke Toraja, Taryn memilih untuk ke Sidrap yang sama sekali bukan destinasi wisata di Sulawesi Selatan. Alasannya sederhana, "I have been to Bali and Lombok, Indonesia's main tourist destinations. Now I want to experience the non-tourist area in Indonesia. Your hometown will be a good choice". Alasan yang jarang saya dengar dari teman-teman saya yang hobi jalan-jalan. 

Menghabiskan waktu 4 malam di kampung saya, Taryn beroleh banyak penggemar. Tetangga-tetangga saya tak henti-hentinya mampir ke rumah dan memuji betapa cantiknya Taryn dengan hidung mancungnya. Selain itu, wajah Taryn yang nampak Latin campur Hindustan serta senyum nya yang tulus (terkadang jengah karena dipandangi) membuat tetangga-tetangga saya jatuh cinta pada Taryn. Tidak usahlah saya ceritakan berapa banyak ibu-ibu hamil yang meminta kandungannya diusap-usap oleh Taryn sembari berharap agar anak mereka kelak mewarisi fitur fisik yang dimiliki oleh Taryn. 

Di penghujung kunjungannya, Taryn merasa sangat puas karena impiannya untuk mengetahui rasanya berwisata di daerah yang bukan tujuan wisata, akhirnya tercapai. Menurut Taryn, keramahan yang dia terima dari penduduk kampung saya sangat terasa tulus, berbeda dengan keramahan-keramahan yang ia terima di daerah daerah wisata yang biasa dia kunjungi, "Cipu, If I have a low self-esteem one day, I will definitely come to your hometown again. They kept telling me that I am pretty, it will help me boosting my confidence", kata Taryn sambil tertawa. 

*********************

Tak pernah terlintas di benak saya bahwa misi "mengunjungi daerah non-turis" seperti yang dilakukan Taryn akan terjadi pada saya. Berawal dari permintaan mitra kerja kami di Bangkok untuk mempresentasikan proyek yang sedang kami lakukan di sebuah event yang dilaksanakan di Bangkok. Saya yang memang pengen ke Bangkok langsung senang saat menerima undangan ini. Saya langsung membayangkan daerah Siam, Sukhumvit, bertemu denga teman-teman saya yang berdomisili di Bangkok. Sudah tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki ke beberapa landmark kota Bangkok. 

Kesenangan saya perlahan memudar setiba di Suvarnabhumi Airport. Saat masuk ke taxi, saya langsung menyebutkan destinasi ke Bapak Supir "Pai AIT, Pathum Tani" (Saya mau ke AIT, daerah Pathum Tani). Bapak Supir yang sadar bahwa makharijul huruf bahasa Thailand saya sangat jauh dari kesan sempurna membalas dalam bahasa Inggris "AIT, OK sir, it is really really far". Saya cuma diam dan membiarkan dia mulai menyetir menuju ke daerah Pathum Tani. Toh ini tetap di Bangkok kan? 

Setelah sejam belum sampai sampai juga, saya mulai menyalakan GPS di hape dan mulai melacak jalur yang ditempuh pak Supir. Jalurnya sudah benar dan memang nampaknya bandara ke Pathum Tani cukup jauh. Saya mulai mengarahkan pak Supir dengan tiga kata komando dasar: Sai (kiri), Khwa (Kanan) dan Trong Pai (lurus) berdasarkan GPS di hape saya. Tiba di sebuah jalan bercabang, saya berteriak Sai Sai Sai (kiri kiri kiri), tapi pak Supirnya ngotot Trong Pai sir (Lurus Mas). Waddohhhh jadilah saya tiba di Pathum Tani, dekat dengan AIT, tapi posisi penginapan saya entah dimana. Saya keluar dari taxi dengan bersungut sungut setelah membayar sekitar 630 Baht plus tol 60 Baht (total 690 Baht atau sekitar 250 ribu Rupiah). Dengan menggeret koper, saya bertanya ke beberapa orang yang lewat sambil menunjukkan alamat penginapan saya. Saya berusaha bertanya dengan Bahasa Inggris sesederhana mungkin ke orang-orang yang saya temui, namun saya benar-benar apes karena tak kunjung memperoleh jawaban. Alih alih memberi jawaban, orang orang yang saya temui banyakan menjauh sambil berkata "no speak English"."Iye gue tau, me no speak Thai too", batin saya. 
J Park Residence in Pathum Tani, Apartemen Mahasiswa dengan sewa kamar 1000 baht per malam

Laskar Ojek penyelamat nyawa saya di negeri orang

Setengah putus asa, saya melewati pos Ojek dan iseng menyodorkan alamat penginapan saya. Si abang ojek mengangguk angguk sambil mengacungkan tiga jari "Sam Sip...." maksudnya 30 Baht. Saya langsung setuju. Dan ternyata penginapan saya adalah apartemen mahasiswa yang berjarak 1 km dari AIT. Saya makin yakin dengan semboyan yang saya pegang teguh di Jakarta: Miracle We Do, In Ojek We Trust.

Ternyata kesulitan utama yang saya hadapi di daerah Pathum Tani adalah komunikasi. Sungguh sangat sulit menemukan partner berkomunikasi yang nyambung. Ada banyak insiden miskomunikasi yang saya alami selama empat hari di Pathum Tani. 

Miskomunikasi dengan Gadis Laundry

Malam pertama di Apartemen Pathum Tani, saya membutuhkan jasa pressing (setrikaan baju). Saya mencoba berkeliling apartemen, siapa tahu ada jasa laundry. Perkiraan saya tepat, di lantai bawah ternyata ada jasa laundry. Saya segera membawa pakaian saya yang akan diseterika ke laundry tadi. 

"Excuse me, could you iron my clothes?", sambil menyorongkan beberapa helai pakaian ke si Mbak Penunggu Laundry (MPL).
Si MPL memandangi saya dengan mulut tercekat seolah mau mengatakan sesuatu, tapi tak kunjung keluar. 
"I have three clothes", kata saya sambil memperagakan gerakan menyeterika. Berharap si mbak mengerti bahwa saya mau menggunakan jasa setrikaannya. 
Si MPL menjawab saya dalam bahasa Thailand yang membuat saya makin bingung.  Dia beberapa kali menggerakkan tangannya seolah mengatakan tidak.
Saya mencoba menunjukkan angka tiga dengan jari saya, artinya tiga helai pakaian dan mencoba menggerakkan tangan saya maju mundur sambil mengepal, yang berarti menyeterika. 

Untungnya si mas resepsionis apartemen lewat dan saya langsung menarik dia masuk ke ruang laundry. Ternyata si MPL menggerakkan tangannya, maksudnya dia sudah tidak bisa menerima order karena sudah hampir jam 8 malam, jam tutup laundry nya.  
Hasil pressing si Mbak Penunggu Laundry, ada tulisan Thailand nya yang artinya kira-kira: Mas Cakep deh 

Berkat negosiasi si mas resepsionis, si MPL akhirnya mau mengerjakan setrikaan saya. Si Mas Resepsionis meninggalkan kami setelah si MPL akhirnya mau menyeterika baju saya. "Ki Baht" (Berapa) tanya saya ke MPL sepeninggal si mas Resepsionis. Si MPL menyodorkan kalkulator dengan angka "45" tertera di layarnya. Saya sodorkan uang 60 Baht dan berlalu. 

Saat akan meninggalkan tempat laundry itu, si gadis akhirnya berkata "Thank You Sir". Saya membatin, tuh kaaannn, bisa Inggris.

Ini mau nyetrika aja ribetnya kayak gini yah. Coba kalau mau laundry, pasti jauh lebih ribet bahasa isyaratnya. Kudu goyang cuci jemur ala dahsyat dulu biar si Mbak mengerti.

Miskomunikasi dengan Mr. I don't think so 

Sebagai orang baru di Pathum Tani, saya tentunya harus mencari tempat makan. Mencoba mencari di google juga tak banyak membantu. Dengan bus sebagai satu satunya moda transportasi publik, saya sedikit kesulitan untuk bisa kemana-mana di Pathum Tani. Jadi saya memutuskan untuk mencari makanan di sekitar apartemen. Ternyata apartemen saya hanya satu dari sekian apartemen mahasiswa yang ada di wilayah ini. Karena tak kunjung menemukan tempat makan atau warung, saya akhirnya mampir di sebuah apartemen yang saya lewati. Saya langsung bertanya ke resepsionisnya sepelan mungkin: 

"Excuse me, Do you know any restaurant or food stalls around here?" 
Si mas resepsionis memandangi saya dengan tercengang sejenak, dan menjawab dengan suara pelan "I don't think so, Sir"
Saya yang bingung langsung menimpali, "So you don't think you know any restaurant around here or you try to say that there is no restaurant around here". 
Si mas resepsionis makin tercekat. Dengan wajah kebingungan dia mengulangi lagi "I don't think so, Sir"
"So you don't know?", tanya saya lagi. 
"I don't think so, Sir", kata si mas nya lagi. 
"So no restaurant around here?", saya mencoba bertanya lagi.
"I don't think so, Sir", kali ini nadanya makin tidak yakin. Saya berlalu dan tak lupa mengucapkan terima kasih ke Mr. I don't think so. 
Salah satu resto di sekitaran J Park Residence

30 menit kemudian, saya sudah duduk menikmati KFC  dengan sambel khas Thailand yang lokasinya 300 meter dari apartemen Mr. I don't think so. 

Miskomunikasi dengan Resepsionis Apartemen

Sehari sebelum saya check out, saya mencoba mengkonfirmasi check out saya ke pihak apartemen. Mengingat kantor administrasi apartemen ini baru buka jam 9 pagi dan saya harus check out sebelum jam 9, maka saya bermaksud menanyakan detail check out, ke siapa nantinya kunci kamar saya serahkan. Saya bertemu dengan mas resepsionis yang berbeda dengan mas resepsionis sebelumnya yang membantu saya negosiasi laundry. 

"So, if the office is open at 9 am tomorrow, and I want to check out before 9 am, who should I hand my room key to?", tanya saya dengan kecepatan rendah dan kejelasan pengucapan yang mendekati sempurna. 
Use the swimming pool for free

Dengan senyum ramah khas Pemuda Thailand dan dengan suara lantang dan penuh keyakinan, si mas Resepsionis menjawab: "Yes Sir, you can use the swimming pool and the gym room for free. You can use your room card to access the swimming pool and the gym room". 

Saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ini lah jawaban nggak nyambung yang tidak pernah saya nanti-nantikan. Daripada makin pusing saya meninggalkan ruangan itu dengan senyum terpaksa sambil berkata: Khop Khun Khrap........
Asian Institute of Technology (AIT), Pathum Tani

Ternyata mengunjungi Bangkok tak selamanya sesuai harapan. Miskomunikasi bisa saja terjadi dan mungkin bisa bikin jengkel. Saya menganggap apa yang saya alami justru lucu dan mungkin pernah menimpa teman-teman yang juga travel ke daerah-daerah non-English speaking countries. Miskomunimasi malah mungkin bisa lebih sering terjadi saat mengunjungi daerah-daerah yang turisnya tidak banyak. Namun, terlepas dari soal miskomunikasi tadi. Saya tetap mendapatkan keramahan khas penduduk setempat. Si Mbak Penunggu Laundry yang rela sedikit lembur demi tiga helai baju saya, si Mr. I Don't Think So yang berusaha memberikan jawaban semampu dia, dan Mas Resepsionis Apartemen yang berusaha memberi info bahwa kolam renang dan ruang gym bebas untuk penghuni. 

Ada yang punya cerita lain?

Comments

gw ngakak bgt baca Mr. I don't think so. hahahaha.. lucu bgt..

pas di jepang kemarin, gw tuh pernah jg miskom. gw nanya makanan ini ada babi apa ngga?

"is it pork?"
dijawab, "no, this pig'e." dengan akses jepang.

"Pork or pig?"
dijawab, "Pig, no pork."
gw tanya lagi, "buta?"
mereka angguk angguk, "yes, buta!"
hihihi
gunadi firdaus said…
hehe... pengalaman yang mengesalkan dan menyusahkan kalau sudah terlewati kadang malah jadi sesuatu yang lucu dan menyenangkan untuk diingat kemblai. salam kenal
Mila Said said…
tapi tetep aja ga ada bilang lo cakep kayak taryn dibilang cakep wee :p
Di sinilah seninya traveling ke tempat non turis. Tapi di tempat turistik juga kejadian kayak gini bisa terjadi. Contohnya waktu gw nyampe Krabi kemaleman. Susah banget minta tolong orang buat nyariin alternatif transportasi ke penginapan :)
laurentina said…
Mungkin ini susahnya negara yang nggak pernah dijajah. Mereka jadi nggak ngerti betapa pentingnya belajar bahasa selain bahasa negeri mereka sendiri :D

Tapi Mr I-don't-think-so dan manajer apartemenmu betul-betul bikin saya ketawa terbahak-bahak!
nhae gerhana said…
masyarakat daerah emang ramah2.. waktu ke jeneponto juga, jadi punya banyak sodara baru disana..
Arif Keanu said…
emang kadang perlu banyak belajar bahasa laen , minimal bahasa untuk aktivitas sehari-hari, supaya gak terjadi miskomunikasi, nice info gan, salam kenal
adelays.com said…
Salam kenal dari Adelays,
Sekalian memberikan informasi kalau berminat ikut lomba ngeblog berhadiah Rp. 12.500.000, saya share disini :
http://adelays.com/2014/05/02/lomba-nge-blog-berhadiah/
adelays.com said…
Salam kenal dari Adelays,
Sekalian memberikan informasi kalau berminat ikut lomba ngeblog berhadiah Rp. 12.500.000, saya share disini :
http://adelays.com/2014/05/02/lomba-nge-blog-berhadiah/
Felicity said…
Ngakak baca postingan elu ini Cipu.... Dari semua negara yang gw datamgi, Thailand adalahs alah satu yang paling menantang dalam komunikasi. Bukan apa2x....tiap gw bilang 'no thai please' atau 'i don't speak thai' yang ada mereka bengong.... entah bengong nggak ngerti apa yang gw omongin ato bengong nggak percaya kalo gw bukan pribumi... Di pesawat Thai Air aja biasanya staff kabin ngomong thai terus capek menyangkal ke-non thai-an gw...

Karena hubby bisa ngomong spanish, french, portuguese, lumayan lah pilihan negara yang bisa kita datangi tanpa kendala komunikasi. Gw tinggal nyodorin dia jadi penterjemah :D
Ainur Rofiq said…
Hahahaha....Lucu juga ya kalau berkunjung ke Negara yang mayoritas penduduknya nggak ngerti Bahasa Inggris sedikit pun. Pasti bahasa tubuh solusinya. Jadi bayangin Mas Cipu kalau jelasin pakai bahasa tubuh pasti kayak goyang itik atau goyang patah-patah. Hahahahaha....*peace mas bro
zaskia said…

thanks sob untuk postingannya...
article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
maju terus dan sukses selalu...
salam kenal yach...
€RR¥ said…
They are so very proud of their country and language so they think they should not learn English. Even a simple English. Hahahahaa...
kepiting merah said…
Cerita2 miskom yg lucu, thanks for sharing!
Btw, ojeg emang a lifesaver ya! Baru tahu nih di Thailand ada ojeg juga.
Iman said…
Hihihi ... I don't think so :)

Popular Posts