Wisata Religi di Kota Cahaya

Menjelang akhir Ramadhan, saya dan seorang rekan kerja ditugaskan ke Paris. Yah pemirsa, saat di bulan Ramadhan, teman-teman kebanyakan berada di tanah suci atau sedang i'tiqaf di masjid, penugasan saya membawa saya ke Paris, la ville lumiere (kota Cahaya). Ini adalah kunjungan pertama saya ke Paris dan tentunya perlu bisa segera menguasai sistem transportasi Paris agar bisa leluasa menjelajahi kotanya dengan harga terjangkau. Beruntung, hotel kecil yang kami tinggali di Paris berlokasi sangat dekat dengan stasiun Metro. Metro sendiri adalah sistem transportasi kereta yang menghubungkan berbagai tempat di Paris. Uniknya lagi, nama stasiun dekat hotel yang saya tempati adalah Pasteur. Berasa di Bandungkan? Yah ga salah juga kalau Bandung dijuluki Paris van Java, sama sama punya Pasteur soalnya. 

Stasiun Metro Pasteur di Paris

Saat itu hari Minggu terakhir di bulan Ramadhan. Setelah sahur dengan Pop Mie bawa dari Indonesia menjelang pukul 05.30 subuh, saya menyempatkan tidur sebentar untuk memulihkan tenaga sebelum lanjut menjelajahi beberapa tempat di Paris. Pukul 9 pagi, saya dan rekan kerja berangkat dari hotel menuju ke sebuah tempat bernama Basilika Sacre Coeur. Menurut om Google Maps, perjalanan ke Sacre Coeur memakan waktu kurang dari 40 menit. Dari stasiun Metro Pasteur dekat hotel, kami cukup mengikuti jalur Metro nomer 12 menuju stasiun Abbesses, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter menuju Basilika Sacre Coeur. Cuaca pagi itu masih di bawah 10 derajat, sehingga pakaian yang kami kenakan masih winter mode. 

Setiba di stasiun Abbesses, ternyata perjalanan tak semulus yang saya kira. Saat menuju ke luar stasion Abbesses, ternyata para penumpang harus menaiki tangga spiral beberapa seri untuk bisa menuju pintu keluar. Makanya, jangan heran dengan wajah wajah pucat dengan napas tersengal-sengal saat dari para penumpang yang keluar dari stasiun ini. Percayalah, mereka baru saja melakukan latihan kardio intensif dalam perjalanan mereka keluar stasiun. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung disambut dengan pasar kaget masyarakat setempat dan deretan toko-toko yang sebagian besar masih tutup, maklum kami memang pejuang pagi. Tiba di lokasi wisata saat toko masih pada tutup. 

Ibarat makan di resto yang dimulai dengan entree, main course dan dessert, perjalanan ke Sacre Coeur pun demikian. Perjalanan keluar stasiun yang melewati tangga jahanam (tanpa fasilitas lift) ternyata baru sebagai hidangan pembuka. Saya dan rekan kerja masih harus melewati sejumlah anak tangga untuk bisa mencapai Basilika Sacre Coeur, yang lokasinya di puncak bukit. Namun, perjalanan menanjak ini tak sepenuhnya menyiksa, kami dimanjakan dengan deretan toko yang rapi, jalan yang terbuat dari batu yang tertata rapi (cobblestone) serta mural-mural cantik di sepanjang perjalanan menanjak kami. 

Pretty mural

Suasana kawasan Montmarte

Akhirnya, kami tiba juga di pelataran Basilika Sacre Ceour yang berdiri megah di atas bukit Montmartre. Dari tempat ini pula, kita bisa melihat pemandangan kota Paris dari atas bukit. Dan pagar-pagar pembatas di tempat ini dipenuhi dengan gembok-gembok cinta yang banyak dipasang oleh mereka yang mengikrarkan cinta mereka di kota ini. Antrian tak begitu panjang saat saya dan rekan kerja ingin memasuki Basilika, pemeriksaan yang harus dilalui pun berupa pemeriksaan tas saja. 

Gembok cinta

Saat memasuki Basilika, para pengunjung disambut dengan altar besar di bagian tengah serta kubah basilika yang megah. Sejumlah kupola (kubah kecil) juga turut mempercantik dan menciptakan kesan megah Basilica Sacre Coeur. Di sisi kiri dan kanan Basilika didedikasikan bagi pengunjung untuk mengelilingi tempat ini, dengan altar di bagian tengah yang juga ramai diisi oleh pengunjung. Basilika Sacre Ceour sendiri merupakan gereja katolik roma yang mulai dibangun sejak tahun 1875 dan diselesaikan 40 tahun kemudian di tahun 1914. Montmartre sendiri dipilih sebagai lokasi pembangunan basilika karena lokasinya yang strategis di puncak bukit dan dapat dengan mudah ditemukan, selain itu Montmartre juga merupakan lokasi lahirnya Society of Jesus, salah satu orde Katolik yang berpengaruh pada saat itu. 

Pelataran Basilica Sacre Coeur

Altar Basilika

Di dalam Basilika, terdapat sebuah toko suvenir kecil yang menjual beragam buah tangan khas Sacre Coeur. Dan di sepanjang sisi kanan dan kiri altar dalam Basilika, dijajakan lilin untuk para pengunjung yang bisa untuk dibawa pulang. Sacre Coeur mengandalkan penjualan suvenir ini sebagai salah satu sumber pemasukan utama. Sebenarnya, Sacre Coeur juga menawarkan pemandangan panorama dari bagian atas Basilika, namun karena berbayar, saya jadi batal untuk menikmati panorama Paris dari puncak Basilika.   

Pemandangan Paris dari Sacre Coeur

Lilin yang dijajakan

Meski tak bisa mengunjungi puncak Basilika, saya dan rekan kerja tetap merasa senang karena di sekitar Basilika Sacre Coeur terdapat banyak kawasan pertokoan yang menjajakan oleh-oleh khas Paris, cafe maupun boulangerie (toko roti). Yang menjadi hiburan adalah taman anjing yang dikunjungi anjing-anjing lucu dan haus akan persahabatan sesama anjing. Kami berhenti sejenak menikmati tingkah polah anjing-anjing yang bercengkerama satu sama lain. 

Dog park dekat Sacre Coeur

Wangi semerbak kopi dan roti di sepanjang jalan di sekitar Basilika benar-benar membuat perut yang sedang puasa memberontak. Untungnya, toko-toko imut di sepanjang jalan berhasil mengalihkan saya dari godaan kopi dan roti enyak khas Paris. Sembari menyusuri jalan di Montmartre, mata dimanjakan dengan toko-toko cantik dan cafe-cafe serta restoran pinggir jalan yang dipenuhi pengunjung. 

Dari kawasan Bukit Montmartre, saya dan rekan kerja memutuskan untuk melanjutkan wisata reliji hari itu dengan mengunjungi Masjid Raya Paris alias Grande Mosquee de Paris. Tentunya kami harus kembali ke Stasiun Abbesses, namun perjalanan balik ke stasiun terasa sangat menyenangkan karena jalurnya menurun. Saat memasuki stasiun Abbesses pun kami menuruni tangga dengan riang gembira sembari memberikan tatapan penuh pengertian pada pengunjung yang sedang berjuang keluar (baca: menanjak) dari stasiun ini. Menurut om Google Maps, untuk bisa mencapai masjid, kami harus menggunakan jalur Metro no 12 dan lanjut dengan Metro no 7 menuju Stasiun Place Monge

Tak sulit bagi kami menavigasi stasiun Metro di Paris untuk tiba di Stasiun Place Monge. Berjalan sekitar 300 meter dari stasiun, kami sudah langsung mendapati sebuah bangunan mesjid dengan sebuah minaret yang berdiri kokoh. Keberadaan muslim di Prancis tak lepas dari penjajahan yang dilakukan oleh Prancis pada abad ke-19 dan 20 di sejumlah negara Muslim. Inisiatif membangun mesjid di Paris sendiri sudah dimulai disuarakan oleh seorang jurnalis setempat bernama Paul Bourdarie sejak tahun 1895, namun tidak membuahkan hasil. Kondisi perang dan geopolitik pada saat itu membuat keputusan membangun masjid menjadi dilematis bagi Prancis. Mimpi tersebut baru mulai terwujud 27 tahun kemudian, dengan peletakan batu pertama mesjid Paris pada tahun 1922 dan diselesaikan dalam kurun waktu empat tahun di tahun 1926. Peresmian Grande Mosquee de Paris kala itu dilakukan oleh Presiden Prancis , Gaston Doumergue, didampingi oleh Sultan Yusuf dari Maroko. 

Grande Mosquee de Paris


Taman Maroko dalam Mesjid

Nuansa Maroko terasa sangat kental saat memasuki kawasan Masjid Paris ini. Di tengah-tengah mesjid terdapat sebuah taman kecil bergaya Maroko yang indah dengan tanaman dan bunga-bunga yang cantik. Masjid inipun terbuka untuk umum. Para pengunjung dapat mengelilingi masjid dan menikmati arsitektur bangunan serta indahnya taman khas Maroko masjid ini. Satu-satunya tempat yang tidak dimasuki oleh pengunjung non-muslim adalah ruang sholat di bagian tengah masjid, agar jemaah muslim dapat beribadah dengan khusyuk. Suasan ruang sholat Masjid Paris sendiri mengingatkan saya dengan interior Masjid Baiturrahman di Aceh. 

Salah satu sudut taman


Suasana interior masjid


Gerbang yang menghubungkan masjid dengan taman

Kebetulan saat tiba di Masjid Paris, waktu menunjukkan pukul 2 siang, bertepatan dengan waktu sholat Dzuhur. Setelah mengambil wudhu, saya ikut sholat berjamaah bersama pengunjung muslim yang lain dan penduduk muslim setempat. Meski tak berukuran besar seperti masjid raya di kota kota besar di Indonesia, Grande Mosquee Paris menawarkan arsitektur serta tamannya sebagai daya tarik. Selain itu, di samping taman, terdapat sebuah ruangan yang difungsikan sebagai ruang sejarah berisi sejarah muslim di Prancis serta berdirinya Masjid Raya Paris ini. 
ruangan berisi informasi sejarah masjid Paris

Setelah puas menikmati suasana Maroko di Masjid Raya Paris, saya dan rekan kerja kembali ke hotel. Kami tiba di hotel menjelang pukul empat sore. Meski Buka puasa masih lima jam lagi (waktu buka puasa adalah 20.45 waktu setempat), saatnya tidur sore sejenak sebelum lanjut ngabuburit van Paris buat cari takjil. Yang pasti ga bakal dapat kolak sih untuk buka puasa. Berkah puasa di Paris adalah kami tak merasa begitu haus dan lapar meski jam puasa lebih panjang, berkat cuaca musim semi rasa musim dingin saat kami di sana. 

11 komentar
  1. Wow I am so happy you enjoyed Paris! I was there last month during the Marathon but I did not run. I havent been to Sacre Cour, it looks very nice! Cheers to more travels and visit Barcelona someday its also very beautiful!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Steve, well Paris Marathon sounds fun (never been able to run more than half marathon). Anyway, wait for me in Barcelona

      Hapus
  2. Paris cantik banget negaranya, apalagi kalau udah masuk ke bangunan bersejarah, terlihat kokoh dan mewah desainnya. Semoga someday bisa menjalankan ibadah puasa di sana juga nih hehehe
    tapi biasanyakalau pas traveling dan puasa, rasanya memang nggak lapar, malah enjoy aja menikmati view sekitar.
    Dulu waktu aku puasaan, road trip ke Flores, padahal sahurnya dari bandara di surabaya cuman roti, malah perut nggak terasa lapar sampe waktu berbuka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Ainun, meski puasanya lebih lama, lapar haus tak begitu terasa karena cuaca yang masih dingin, cuma itu tadi, ga bisa menikmati kopi/cokelat panas dari cafe pinggir jalan, hanya bisa menikmati aromanya saja hehehe

      Hapus
  3. Kunjungan balik mas...
    Wah enak nih dapet tugas ke Paris,..walaupun perlu tenaga ekstra untuk naik turun tangganya hehehe...olah raga juga..tapi kebayang kalau lagi puasa atau belum sarapan pastinya nafas ngos-ngosan yaa😀..syukur dapet cuci mata liat pemandangan yg indah" itu bonusnya:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, mungkin salah satu kekurangan naik Metro di Paris, kurang ramah terhadap mereka yang berkebutuhan khusus, terlebih untuk akses pergantian jalur kereta. Tangganya banyak banget

      Hapus
  4. bener juga kalau lagi di luar negeri terutama harus kuasai sistem transportasi biar ke mana mana enak

    sahur pake pop mie gak kuat aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, biar bisa kemana mana murah meriah hehe

      Hapus
  5. Duh saya sampai ngiler baca cerita dan foto-foto jalan-jalan di Paris ini. Berkah banget Mas bisa jalan-jalan kesana.
    Masjid Raya nya keren banget. Indah, sejuk dan nyaman beribadah disana, setidaknya itu yang saya simpulkan dari melihat fotonya.

    Salam kenal Mas pada kunjungan pertama ini.

    Salam dari saya di Sukabumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa ke Paris Mas, dan bisa menikmati suasana kota serta bisa beribadah di Grande Mosquee de Paris. Terima kasih atas kunjungannya dan salam kenal

      Hapus
  6. Keren....keren buat ceritanya, keren juga buat foto fotonya, kapan yah bisa kesana, hehehe

    BalasHapus