Tertahan Seroja di Nusa Cendana

Awal April 2021, saya kembali bertolak ke NTT untuk melakukan kajian proyek. Saya sudah berada di Bandara Soekarno Hatta sebelum pukul 12 tengah malam mengingat penerbangan saya yang dijadwalkan pukul 2 dini hari. Pandemi COVID kala itu membuat penumpang tak punya banyak pilihan waktu terbang. Mata saya sudah ngantuk banget saat berada di ruang tunggu bandara, tapi tetap dipaksakan melek biar tidak ketinggalan pesawat akibat ketiduran. Tujuan perjalanan kala itu adalah ke Rote, yang berarti saya harus transit terlebih dahulu di Kupang selama beberapa jam. 
 
Transit in Kupang (pic taken after the storm)

Perjalanan ke Kupang terasa nyaman tanpa turbulensi yang berarti, namun mendekati Kupang angin terasa sedikit kencang, pesawat yang saya tumpangi baru bisa mendarat pada percobaan kedua. Saya tiba menjelang pukul 7 pagi waktu setempat. Saya dan para penumpang lain langsung merasakan deru angin yang kencang saat kami keluar dari pesawat. Memasuki bandara, saya bertemu dengan tim konsultan yang sudah duluan tiba di Kupang. Kami berencana akan menunggu di bandara untuk penerbangan lanjutan kami dari Kupang menuju ke Rote. Namun, angin makin kencang di luar sana, sangat jelas terlihat dari jendela di bandara pohon-pohon bergoyang karena hembusan angin. Saat kami cek ke pihak bandara, ternyata penerbangan ke Rote hari itu dibatalkan karena cuaca yang semakin memburuk. Setelah berkoordinasi dengan tim di Jakarta, kami memutuskan untuk segera mencari hotel di Kupang dan menunda perjalanan ke Rote sampai situasi kondusif. Hotel Neo Eltari menjadi pilihan kami karena lokasinya yang sangat dekat dengan bandara, dan tentunya karena harganya yang bersaing serta layananannya yang memuaskan (ini kata sejumlah review daring yang saya baca). 

Pantauan angin saat tiba di bandara El Tari, Kupang

Kamar saya berada di lantai 3 hotel itu, dengan jendela menghadap ke lahan kosong di samping hotel. Menjelang siang, angin bukannya mereda malah semakin deras eh kencang (eh kalau angin tuh deras apa kencang sih hahaha) disertai hujan. Jendela di kamar makin sering bergetar karena desakan angin dari luar. Menjelang sore, angin makin mengganas dan air mulai masuk dari jendela. Suara angin makin terasa menyeramkan. Melihat kondisi kamar saya di lantai yang 3 yang mulai kemasukan air dari jendela, saya menghubungi pihak hotel, dan dengan segera mereka memindahkan saya ke sebuah kamar di lantai 2. Saat berdiskusi dengan pihak hotel, mereka menginformasikan bahwa angin yang kian kencang adalah karena badai seroja yang makin mendekati Kupang dan puncaknya adalah pada tengah malam dan dini hari nanti. 
Suasana angin dari jendela hotel 

Dalam situasi krisis tersebut, saya mengacungi jempol kesigapan para staf di Hotel Neo Eltari ini. Makan malam disedaiakan kepada semua penghuni karena gak mungkin juga masih ada penghuni yang mikir mau fine dining di luar hotel dalam situasi seperti itu. Sesekali bunyi seng yang bergoyang di bagian atap hotel terdengar seiring intensitas angin yang semakin kuat. Menjelang jam 8 malam, saya mencoba memejamkan mata meski agak susah karena suara deru angin yang mencekam. Berdasarkan info dari kolega saya yang asli Kupang, sejak pagi kota Kupang sudah mengalami pemadaman. Untungnya hotel memang sudah menyiapkan genset cadangan sehingga kami masih bisa menikmati aliran listrik saat Kota Kupang sudah dilanda kegelapan. 

Menjelang pukul 12 tengah malam, saya terbangun. Koridor hotel terasa ramai dengan orang orang yang lalu lalang. Rupanya seluruh penghuni hotel diarahkan untuk ke lobi dan ruang pertemuan di sebelah lobi. Saya ikut bergabung bersama penghuni yang sudah memenuhi lobi. Saya memilih duduk melantai di pojok lobi sambil menyandarkan kepala di tembok berharap bisa melanjutkan tidur. Angin kencang diluar sana makin terasa menyeramkan, tapi karena ramai penghuni di lobi, kami bisa memulai percakapan satu sama lain. 

Evakuasi di lobi hotel

Memantau informasi angin

Seluruh kru hotel dikerahkan untuk membuat kami merasa lebih nyaman, beberapa dari mereka mengevakuasi penghuni ke lobi, ada juga menemani para penghuni di lobi serta melayani penghuni dengan menawarkan makanan serta minuman. Saya mengecek hape dan mulai melihat pergerakan angin yang makin mendekati Rote dan Kupang, kecepatannyapun kian bertambah hingga melebihi 80 km/jam. Terdengar plang roboh di depan hotel yang menciptakan teriakan panik para penghuni. Namun, semuanya kembali tenang seiring dengan free flow makanan dari staf hotel yang ingin terus memastikan bahwa kami tetap cool, calm dan confident, seperti di iklan rokok. 

Saya memasuki fase pasrah setelah pukul 3 subuh, saya mencari tempat untuk rebahan. Saya ke ruangan meeting di sebelah lobi dan mendapati beberapa penghuni juga berada disana. Segera saya memilih meja dan menyelinap di bawahnya untuk sekadar mencoba memejamkan mata. Akhirnya, saya bisa tertidur beberapa jam. Saya terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Angin di luar sana terasa sudah reda. Saya segera kembali ke kamar, mencoba menghubungi keluarga di Jakarta, lalu melanjutkan tidur. 

Menjelang siang, hotel beberapa kali melakukan pemadaman, mungkin untuk menghemat BBM. Saya bersama tim konsultan mencoba mencari makan di sekitar hotel. Untungnya, hotel boga bahari seberang hotel buka. Kami baru sadar dahsyatnya angin semalam setelah melihat beberapa bagian hotel yang rusak serta sejumlah pohon dan tiang listrik yang roboh. Antrian ATM di seberang hotel juga mengular karena masyarakat butuh uang kas dalam jumlah banyak untuk bertahan selama beberapa hari ke depan. 

Kerusakan bagian atap hotel akibat Seroja

Kota Kupang setelah Seroja

Badai Seroja yang melanda NTT kala itu ternyata mengakibatkan rusaknya banyak infrastruktur di berbagai daerah di NTT, bahkan Rote yang menjadi tujuan kami termasuk daerah yang terdampak paling parah. Dengan kondisi Rote saat itu serta tertutupnya akses ke Rote membuat kami membatalkan misi ke Rote dan akan melakukannya kembali saat situasi sudah kembali normal.
Malam yang gelap di jalan protokol

Untuk pulang ke Jakarta, kami harus menunggu beberapa hari mengingat bahwa Bandara El Tari Kupang juga tutup. Saat penerbangan ke Jakarta sudah dibukapun, kami harus menunggu sehari lagi untuk memesan tiket karena harus melakukan tes COVID dulu, yang pelayanannya sangat terbatas karena padamnya akses listrik di Kota Kupang kala itu. Di malam hari, Kupang menjadi kota yang gelap meski beberapa toko tetap buka dengan mengandalkan genset pribadi milik mereka. Setelah tiga hari tertahan di Kupang, saya dan tim konsultan akhirnya bisa kembali ke Jakarta membawa kenangan tak terlupakan akan SEROJA. We'll be back in NTT again for sure. 
   
21 komentar
  1. saya jadi ingat di waktu kecil di kampung ada badai saat maghrib, seng atap beterbangan gak karuan, kondisinya mati listrik, di depan rumah ada pohon kelapa super tinggi, sampe harus keluar rumah karena pohonnya takut tumbang karena sudah doyong di atas rumah. akhirnya ditebang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Amir, persis yang saya alami di Kupang saat Seroja dua tahun lalu. Semoga kita terhindar dari bencana serupa ya. Aaamiin

      Hapus
  2. Serem juga ya badai Seroja...jadi teringat peristiwa gempa bumi..pastinya tegang kayak gitu juga..sy pernah ngalamin ujan angin kenceng sampai genteng tetangga pada jatuh dan lepas menimpa atap rumah saya..karena rumah saya lebih rendah..gitu aja udh serem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, apalagi kalau dengar bunyi atap atau seng yang bergoyang, suara anginnya kerasa makin seram

      Hapus
  3. Bagi saya yang tinggal di pegunungan cuaca hujan disertai angin kencang adalah hal yang paling nyeremin mas karena banyak pohon di mana-mana. Sering kejadian pohon tumbang di pinggir jalan. Dulu pernah juga ada yang meninggal karena tertimpa pohon di pinggir jalan.
    Alhamdulillah mendarat dari pesawat tepat waktu dan bisa kembali ke jakarta dengan selamat ya mas. Nggak kebayang gimana rasanya jauh dari keluarga trus di situasi kayak gitu. Kayaknya kalau itu saya bakalan saya ceritain sampai bosen ke keluarga dan temen. Bener-bener moment tak terlupakan sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita terhindar ya mbak dari bencana seperti yang saya alami di Kupang, dan selalu diberi keselamatan

      Hapus
  4. Aseli nahan napas baca cerita ini. Kerasa banget deg²an dan khawatirnya. Beruntung masih diberi keselamatan. Ngeri banget hujan anginnya besar begitu.
    Apalagi sampe evakuasi segala di lobi, dnger kata evakuasi aja mesti udah down kalo aku. Soalnya pernah ngalamin berada di kapal laut selama hampir 12 jam gara2 kapalnya kandas di tengah laut... Takut bangt. Baca ini malah ingeti itu hihi mencekam polll mesti di sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalamannya Keza mencekam juga, turut prihatin atas kejadian tersebut. Semoga traumanya bisa pelan pelan hilang ya. Semoga selamat selalu dalam perjalanan

      Hapus
    2. Iyaa kak hihi udah pasrah antara hidup dan mati juga

      Aamiin. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah

      Ini postingannya malah jd tenpat curhat hihi. Pengalaman kakak juga ngeri euy, bertahan di tengah hujan badai. Nonton di tv aja serem palagi nyata :( sad

      Hapus
    3. Bisa dituliskan di blog pengalamannya, Keza.

      Hapus
  5. aku pernah mengalami pergantian jadwal terbang di masa pandemi. Jadwal penerbanganku diubah ke jam lebih pagi dan aku tidak mendapatkan pemberitahuan. Akhirnya baru bisa terbang di keesokan harinya. Bener sih, di masa pandemi tidak banyak pilihan penerbangan.

    Pengalaman mas cipu luar biasa. Terjebak badai di sebuah kota yang didatangi. Tidak bisa melanjutkan perjalanan dan akhirnya memutuskan kembali ke jakarta.

    Keputusan kembali ke Jakarta adalah pilihan tepat daripada dilanjutkan ke Rote dan kemudian terjadi banyak kejadian yang diluar kehendak kita. Kalau cuaca buruk survei pekerjaan juga tidak bisa berjalan dengan maksimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, tadinya mau ke Rote untuk studi jaringan listrik, tapi ternyata setelah Seroja jaringan listrik di Rote banyak yang terkena dampak, jadi studinya kita tunda sampai suasana stabil kembali

      Hapus
  6. itu brangkat jam 2 pagi pilotnya apa enggak ngantuk ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilotnya tidur siang yang panjang mas bablas sampe malam

      Hapus
  7. saya membacanya sangat salut dengan petugas hotel
    yang begitu sigap dan siaga
    keren banget dah, baru kali ini saya tahu ada petugas seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, staf hotelnya betul-betul berdedikasi. Salut

      Hapus
  8. anginnya seremm, kenceng amat.
    Iya aku pernah denger soal badai seroja, cuma ga pernah melihat langsung, jadi ga nyangka kalau ganas juga ya, imbasnya sampe bisa bikin atap rusak.
    kalau kayak gini cuacanya memang bikin nggak tenang, kadang meskipun rumah kita terasa kokoh, ya tetep ada rasa takut juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Ainun, suara anginnya kadang yang bikin serem. Semoga kita aman sentosa selalu ya

      Hapus
  9. Ga kebayang sih seremnya mas. Selama ini aku taunya badai2 begini biasa di Negara2 lain, tapi ternyata di Indonesia juga ada. Melihat foto2 kerusakan berarti bener kenceng banget anginnya yaa.

    Aku ga pernah ngalamin badai angin begini. Jangan sampe kalo bisa 😅. Hujan deras sampe petir sahut2an aja aku takut, apalagi pake badai angin. Aku keinget trus Ama tornado soalnya 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan kondisi iklim saat ini memang diprediksi intensitas dan frekuensi badai akan semakin tinggi. Semoga kita semua dilindungi Allah SWT, Aamiin

      Hapus
  10. Mengerikan ya, Mas Cipu .... Untung semua penghuni hotel selamat.

    BalasHapus