Sunday, January 8, 2017

Mungkin banyak yang masih asing dengan tes kesehatan sebelum nikah alias pre-marital check up. Saya saja heran waktu istri saya (saat itu masih calon) mengusulkan agar kami mengambil tes kesehatan sebelum menikah. Rasanya, teman-teman saya yang telah nikah tidak pernah cerita kalau mereka ikut pre-marital check up sebelum nikah. Atau apakah mereka sebenarnya ikut tes tapi memang tidak mendiskusikannya dengan sahabatnya.

Saya sempat tanya sih ke kerabat saya tentang pre-marital check up, dan kerabat saya malah sangat menganjurkan saya untuk melakukan tes tersebut sebelum nikah. "Bukan apa-apa sih Cip, saudara mengalami keguguran dua kali karena dia tidak tahu bahwa ada kista di rahimnya," Seandainya yang bersangkutan menyempatkan pre-marital check up sebelum nikah, kemungkinan risiko keguguran dapat diminamilisir. Dipikir-pikir benar juga sih, saya kan belum terbukti subur (waktu itu), saya juga gak tahu apakah saya sehat secara seksual untuk (calon) istri. 
Gambar diperoleh dari http://bersamapundimulai.blogspot.co.id/2013/02/pre-marital-check-up.html

Sempat terpikir bahwa tes kesehatan yang dimaksud (calon) istri saya saat itu adalah tes kesuburan, untuk tahu apakah saya subur atau tidak sebagai calon bapak. Ternyata, tes kesehatan sebelum nikah untuk kedua calon mempelai lebih dari hanya sekedar tes kesuburan, akan tetapi juga untuk mengetahui apakah kedua calon mempelai sehat dan tidak berpotensi memberikan dampak buruk pada anak dan pasangannya di masa mendatang. Kalau kata banyak artikel sih biar gak beli kucing dalam karung. Maksudnya, dengan pre-marital check up, kita jadi bisa beli kucing diluar karung (loh).

Untungnya asuransi kantor istri meng-cover pre-marital check up (sujud syukur), jadi saya dan (calon) istri tidak perlu khawatir dengan biaya tes tersebut. Kami (sebenarnya istri sih yang rajin googling) pun mulai mencari rujukan rumah sakit yang melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah serta biayanya. Pilihan kami akhirnya jatuh ke RSUP Persahabatan, karena paket yang ditawarkan lumayan lengkap dengan biaya yang masuk dalam pagu asuransi yang kami siapkan. Untuk reservasi pun cukup mudah, bisa tinggal telepon ke Pemeriksaan Medik Terpadu RSUP Persahabatan.

Di hari H, saya dan (calon) istri sudah berada di rumah sakit pagi-pagi, dan kami diminta untuk puasa 12 jam sebelum tes ini dilakukan. Setelah mendaftar, saya dan (calon) istri ditimbang berat badan dan diukur tekanan darah. Setelah itu, kami mengikuti tes kesehatan mata, pasti sudah pada pernah mengikuti tes nya kan?. 

Setelah tes mata, kami selanjutnya berfoto..... foto rontgen maksudnya (jangan bayangkan selfie-selfie saat medical check up yah, there's no such thing). Kelar berfoto setengah badan tanpa close up wajah (alias rontgen), kami diberi wadah untuk sampel urin. Sampel urin (air kencing) diambil untuk untuk memantau fungsi ginjal dan penyakit lain yang berhubungan dengan ginjal atau saluran kemih. Setelah menyerahkan sampel urin, lanjut dengan pengambilan darah. Saya amati jumlah darah yang diambil cukup banyak. Dan memang sebenarnya ada banyak hal yang bisa diamati dari sampel darah yang diambil, diantaranya: analisa hemoglobin untuk tahu ada atau tidaknya penyakit/kelainan darah (darah biru tidak termasuk kelainan yah, itu kelebihan), laju endap darah (LED) untuk deteksi peradangan, pemeriksaan golongan darah dan rhesis, pemeriksaan gula darah untuk kemungkinan adanya diabetes melitus, pemeriksaan HBsAg untuk deteksi hepatitis B atau peradangan hati (makanya yang hatinya terluka mending disembuhin dulu), dan pemeriksaan VDSLR/RPR untuk deteksi penyakit sifilis. Well sebagian istilah medis di atas saya rangkum dari berbagai website, jadi jangan tanya saya tentang prosedur tes nya yah. Kalau mau tanya prosedur tes nya mending langsung tanya om Google saja, hahahah. 

Setelah serangkaian pengambilan sampel di atas, saya dan (calon) istri berpisah. Istri lanjut dengan tes TORCH yang berguna untuk mengetahui ada tidaknya infeksi karena parasit Toxoplasma, virus Rubella, virus Cytomegalo (CMV), dan virus Herpes. Hal ini penting untuk diketahui karena adanya infeksi pada ibu hamil kelak bisa menyebabkan cacat pada janin atau kelainan prematur lainnya. Sedangkan saya melanjutkan dengan tes semen (sperma). Tes ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasukan sperma si calon suami/calon bapak (jika beruntung) cukup banyak, bentuknya kekar dan sehat, serta kuat berenang dan memiliki endurance menuju target yang diinginkan (ngomong endurance kok tiba tiba ingat iklan Extra Joss yah). 

Gambar diambil dari https://www.pinterest.com/pin/240731542553988900/

Ada kejadian agak menjengkelkan sih saat saya menuju ke laboratorium untuk tes semen ini. Saat saya mendaftar untuk pengambilan sampel, beberapa staf admin malah ngasih komen kurang enak. 

"Mas sama calon istri itu ngambil tes medical check up pranikah yah?", tanya seorang bapak yang juga petugas disana. 
"Iya, Pak", jawab saya singkat. 
"Ada-ada saja yah anak jaman sekarang, dulu dulu kita gak ada beginian, sehat sehat saja tuh anak-anaknya", jawab bapak yang lainnya. 
Saya cuma senyum masam. Pengen balas bilang gini sih, "tapi angka kematian ibu dan anak di jaman Bapak tinggi", cuma saya gak pegang data, jadi mingkem saja. 
"Terus kalau nanti mas nya ketahuan gak subur atau istrinya gak subur, gimana mas? Batal dong pernikahannya," jawab si bapak yang pertama. 
"Ini untuk menghindari ada masalah di kemudian hari pak. Saya berharap aja hasil tes nya bagus. Kalaupun ga bagus, jadi bisa didiskusikan dengan calon pasangan langkah selanjutnya," jawab saya sediplomatis mungkin. 
Si Bapak sepertinya masih gak puas, cuma saya sudah gak peduli. Seperti kata pepatah: Kalau Tiada Senapan, Baik Berjalan Lapang, yang artinya kira kira jika tidak bersenjata sebaiknya mengalah, atau jika tak punya data, sing waras ngalah hehehe. 

Setelah menyerahkan sampel semen, pemeriksaan TORCH (calon) istri pun juga sudah selesai. Setelah itu, kami boleh pulang. Kami menyelesaikan medical check up pas jam makan siang. Saya pribadi merasa was-was juga menunggu hasil pemeriksaan tes kami. Bagaimana jika saya tidak sehat, atau bermasalah dengan kesuburan? What's gonna happen to our planned marriage? Omongan si bapak di laboratorium rumah sakit sempat menghantui saya juga. Syukurnya, beberapa hari kemudian saat hasil keluar kami berdua sehat dan subur (sujud syukur lagi). Thanks Lord

Buat calon pasutri, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin melakukan pre-marital check up


  1. Pastikan untuk berdiskusi dengan calon pasangan, karena tidak semua orang pasti merasa nyaman dengan pre-marital check up, apalagi dalam kondisi masyarakat dimana melakukan medical check up belum menjadi hal yang jamak. 
  2. Cobalah untuk mengecek asuransi masing-masing, apakah asuransi salah satu atau kedua orang meng-cover pre-marital medical check up. Jika memang bisa dicover, alasan untuk melakukannya jadi lebih kuat kan? Jika tidak, maka teman-teman bisa mulai bergerilya untuk membandingkan biayanya di rumah sakit yang ada di kota masing-masing. 
  3. Semalam sebelum pre-marital check up, calon pasangan harus mulai berpuasa, hitungannya 12 jam sebelum janji temu pre-marital check up. Hal ini dimaksudkan agar sampel darah yang akan diambil bisa sesuai dengan kriteria uji darah. 
  4. Untuk uji semen/sperma, sebaiknya sperma yang diambil/dikumpulkan adalah sperma yang diambil 2-7 hari setelah ejakulasi terakhir. Jadi kalkulasi yang benar yah, hitung mundur dengan tanggal pengambilan sampel, biar hasilnya bisa maksimal (gak error). 
  5. Jangan tegang, ini adalah sarana untuk saling mengenal pasangan jadi dibawa santai saja yah. Kalau kebawa tegang, malah nanti hasilnya tidak akurat. Jadi tegangnya nanti aja abis married (eh?). 
Nah kira-kira itulah sedikit share saya tentang pengalaman pre-marital check up saya. Kalau mau tanya-tanya silahkan lho. FYI, sekarang sedang menjadi suami siaga untuk istri yang sedang hamil, doakan kami agar semua proses nya lancar yah, ibu dan anak sehat. Amiiin 

Monday, December 12, 2016

Sejak kemenangan agregat Indonesia atas Vietnam di Ho Chi Minh City di babak semi final AFF, animo masyarakat Indonesia terhadap partai final makin berkobar. Pertandingan final Indonesia melawan Thailand sudah pasti akan sangat meriah. Untuk Leg 1 sendiri yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 14 Desember,  Stadion Pakansari Cibinong yang menjadi venue leg 1 dipastikan akan penuh dengan pendukung tim nasional Indonesia. Sudah bisa dibayangkan antri beli tiketnya yang saat semi final kemarin sempat menjadi sorotan media, baik yang online maupun yang beli langsung. 

Ticket price and the sole merchant for online purchase

Saya yang bukan penggemar fanatik bola sebenarnya tidak terlalu pusing, toh juga biasanya pasti ada siaran langsungnya, atau sehari setelahnya juga sudah bisa tahu siapa yang menang. Keadaan berubah, saat sepupu jauh saya menelepon dari Gorontalo dan menyampaikan keinginannya untuk ke Jakarta demi bisa menyaksikan pertandingan final timnas kebanggaannya melawan Thailand. Amanat untuk memesankan tiket pun saya emban. Tapi saya bilang juga ke sepupu saya ini, kalau saya tidak bisa janji apa-apa, belajar dari berita-berita tentang penjualan tiket pas semi-final. 

Friday, December 9, 2016

Sebulan yang lalu, saya kembali ditugaskan ke Nias. Awalnya pengen girang tapi gak jadi, soalnya jatah saya di Nias hanya semalam dan itupun tugasnya masuk ke pedalaman. Saya udah kebayang naik mobil double cabin, jalan berbatu tanpa aspal, dan seluruh badan yang pasti rasanya habis digebukin setelah perjalanan. 
Tim Nias

Untuk penugasan ke Nias, saya akan menemani beberapa rekan kerja saya dari Kantor Dubai dan mitra dari China. Saya jadi merasa lagi pertukaran pemuda, nge-trip bareng sama orang asing. Cuma bedanya yang saya temenin trip bukan pemuda lagi, cuma saya dan si Timur Tengah doang yang terbilang muda, ehem. Tim saya ada satu orang Jerman, satu orang Timur Tengah, dua orang China dan saya sendiri sebagai orang Swiss (baca: Sulawesi Selatan) serta satu kolega orang Indonesia lainnya. 

Sunday, August 14, 2016


Lari sejatinya memang sederhana, cuma modal sepatu dan keinginan. Keberadaan sportwatch merupakan aksesoris tambahan bagi penggemar lari untuk mendapatkan informasi lebih tentang peforma mereka. Saya awal awal lari juga karena dapat hadiah sportwatch dari kakak. Selama hampir dua tahun berlari, saya dengan setia ditemani oleh Sportwatch hadiah kakak ini. Sayapun sedikit banyak tahu tentang kemampuan lari saya berkat data-data yang bisa saya peroleh dari sportwatch saya. 

Belakangan ini, minat saya ternyata bertambah, saya getol berenang. Saya makin intens untuk berenang. Bahkan berhenti gym di salah satu waralaba gym ternama dan pindah ke Sport Club dekat rumah demi bisa berenang. That's how serious I take swimming this time (halah). Bermula dari berenang gaya bebas modifikasi ala Cipu hingga belajar gaya bebas yang benar (meski sekarang masih banyak salah salah juga sih). Saya sebenarnya bingung mau mengukur diri sendiri, karena saya tidak memiliki alat untuk mengukur efektifitas berenang saya. Sportwatch yang saya miliki hanya untuk lari saja. 
Introducing: Moov Now

Sunday, July 31, 2016

Postingan ini bukan sekuel dari buku "Sabtu Bersama Bapak" yang mengharu biru itu, judulnya kebetulan dimirip-miripkan saja biar ada kesan kekinian dan membuat orang tertarik membaca (dan meninggalkan komen hahahah). Kali ini saya akan sedikit share tentang kegiatan rutin saya tiga sabtu terakhir, yakni belajar berenang. 

Ngomong-ngomong tentang berenang, saya sendiri baru bisa berenang di tahun 2008, saat teman-teman kantor sering ngajakin berenang di Pondok Indah. Saya belajar berenangnya pun modal nguping anak-anak yang lagi belajar berenang sama pelatihnya. Pelan pelan bisa gaya dada, masalah tekniknya benar apa nggak itu urusan belakangan, yang penting bisa gerak dulu. Setelah itu, saya mulai mengamati juga yang gaya bebas dan mulai meniru mereka sebisa saya. Berbekal beberapa kali nelen air dan telinga kemasukan air, saya bisa juga bergerak saat menirukan gaya bebas mereka-mereka di kolam. Setelah itu, saya tak pernah melewatkan kolam renang di tempat-tempat yang saya kunjungi. Mau kolamnya sekecil apapun, saya pasti nyemplung. Intinya saya harus berenang demi perut yang tak kunjung rata ini.
Sport Club Kota Wisata

Sunday, July 3, 2016

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu membawa sepatu lari kemana-mana, baik saat duty traveling ataupun saat pure traveling. Sebenarnya alasan awalnya buat gaya-gayaan saja, buat di posting di Path kalau saya sedang lari di mana hahahah. Akan tetapi lama kelamaan alasannya berubah, saya bawa sepatu lari karena emang pengen lari dan tentunya merasakan euforia berlari di tempat yang berbeda (prett). Intinya sih buat memotivasi teman teman buat ikut-ikutan lari, lumayan kan bisa ngeluarin keringat, menghilangkan memori tentang mantan lemak-lemak di perut, paha dan tempat-tempat strategis lainnya. 

Biasanya saya bisa merasakan sensari lari di luar kota saat saya sedang tugas kantor. Yang paling sering adalah di Medan, pernah juga di Lombok, Belitung dan Makassar (ini kalau lagi mudik). Entah rasanya ada yang kurang kalau sedang mengunjungi suatu kota dan saya tidak sempat lari (meski itu cuma 5 km). Intinya, saya harus meninggalkan jejak di sana (lu kata Pramuka). Perjalanan dinas terakhir ke Nias kemarin contohnya, saya tidak sempat untuk lari karena sedang bulan Ramadhan dan mustahil untuk lari malam karena saya kurang begitu familiar medannya. Makanya terasa ada yang gak lengkap pas ke Nias kemarin. Biasanya saya lebih memilih lari pagi atau sore saat berada di luar kota. Ibadah lari malam hanya saya lakukan saat saya berlari di sekitaran komplek rumah.  
Foto andalan, pake penanda nike plus, jarak dan catatan waktu 

Monday, June 27, 2016

Saya sangat senang saat mengetahui bahwa tim saya akan melakukan survei ke Nias. Meski judulnya survei, yang artinya bukan have fun, saya toh tetap senang. Sudah beberapa bulan terakhir memang saya berkutat dengan data dan informasi terkait Nias. Jangan tanya tentang surfing atau lompat batu di Nias yah ke saya? Saya bukan mencari informasi tentang tempat wisata di Nias, akan tetapi saya banyak berkutat dengan nama-nama desa di Nias yang notabene unik. Kalau diperhatikan, penamaan desa di Nias banyak kemiripan dengan penamaan tempat di New Zealand (hahahaha beda banget yah pembandingnya). Baik di New Zealand maupun di Nias, suku kata di nama-nama tempat jarang yang berakhiran konsonan. Lihat saja nama-nama tempat New Zealand (kecuali Wellington, Christchurch, Queenstown, Auckland dan beberapa tempat yang memang menggunakan bahasa Inggirs): Rotorua, Tongariro, Te Anau,  Waikato, Wainuoimata, dst. Kata-kata asli suku Maori ini umumnya tak memiliki suku kata berakhiran konsonan. Kesamaan ini juga saya temukan di penamaan desa-desa di Nias, beberapa contoh yang saya dapatkan antara lain: Hiliasawate, Lolomaya, O'o'u, Hiliorodua, Balosalo'o, Hiliorudua dan sejumlah nama nama uniknya. Berhubung Nias Selatan saja ada 400 an nama desa, alih alih merasa bosan saat mengerjakan datanya, saya justru merasa terhibur saat mengerjakan data Nias karena nama-nama yang unik tadi.

Bandar Udara Binaka, Nias

Perjalanan 50 menit dari Kualanamu ke Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias terasa sangat singkat. Kami mendarat dengan selamat dan segera bertolak ke bagian selatan pulau itu. Kami menuju ke Teluk Dalam, yang memakan waktu sekitar 2 jam 20 menit dari Bandara Binaka. Di sepanjang perjalanan saya terus mengamati plang atau papan informasi yang ada di jalan untuk mengetahu nama-nama daerah yang kami lalui. Walhasil, saya senyum-senyum sendiri, karena banyak nama daerah yang sudah familiar. Karena sudah familiar dengan nama desa-desanya, saya jadi merasa tidak asing dengan Nias, padahal ini kali pertama saya ke Nias. Tak punya data, maka tak kenal, tak kenal maka tak ada perjalanan dinas kan? 

Sunday, May 29, 2016

Saya dan istri awalnya berpikir bahwa kendala bahasa di Vietnam adalah kendala yang terberat. Berhubung setelah ke Vietnam kami lanjut ke China, saya sih tenang tenang saja. Saya pikir banyak kok teman-teman saya di Indonesia yang sudah pernah ke China dan jarang yang komplain tentang bahasa selama perjalanan mereka di China. Jadi saya sudah menganggap bahwa perjalanan ke China akan menjadi perjalanan yang no problemo selama saya bisa bercakap bahasa Inggris.
Mu Mansion, Lijiang, Yunnan Province
Anggapan saya tentang kemudahan berbahasa Inggris di China mulai memudar saat saya mendarat di Bandara Internasional Changshui, Kunming di Provinsi Yunnan. Hah? Yunnan? Bukan Shanghai atau Beijing atau Guangzhou? Yah saya dan istri memutuskan untuk berwisata ke Provinsi Yunnan. Mengapa tidak ke destinasi destinasi utama orang orang ke China? Jawaban saya sederhana "Kenapa tidak?". Saya dan istri sebenarnya penasaran saja dengan Provinsi Yunnan, terutama Lijiang, setelah melakukan sedikit browsing tentang China.

Sunday, May 22, 2016

Cerita kali ini tentang perjalanan saya bersama istri saya (Yup, I just got married) ke Hanoi, Vietnam. Kenapa ke Hanoi? Alasannya sederhana, saya sudah lama penasaran dengan Ha Long Bay makanya kudu transit dulu di Hanoi. Postingan kali ini sayangnya bukan cerita tentang perjalanan ke Ha Long Bay, melainkan cerita-cerita unik yang kami alami selama perjalanan. Berikut kisahnya:
Salah satu sudut kota Hanoi 

“Can you take our picture?”

Hanoi berasal dari kata “Ha” dan “Noi” yang berarti di antara sungai. Kota Hanoi memang dialiri oleh Sungai Merah (Red River) yang bermuara dari Provinsi Yunnan, China. Salah satu landmark kota Hanoi yang sangat terkenal dan terletak di kawasan strategis kota Hanoi adalah Danau Hoan Kiem. Nama Hoan Kiem dijadikan sebagai nama district tempat danau ini berada. Kawasan Hoan Kiem merupakan lokasi kawasan Old Quarter yang menjadi pusat perdagangan Hanoi di masa lalu. Sampai sekarang kawasan Hoan Kiem masih dipenuhi oleh pedagang-pedagang, dipenuhi pengendara motor dan menjadi salah satu pusat kawasan turis di Hanoi. Uniknya, toko toko di kawasan ini memiliki lebar 3-4 meter saja pemirsa. Tak terkecuali hotel yang menjadi tempat kami menginap yang memiliki lebar kurang dari 4 meter. Menarik bukan?

Thursday, April 7, 2016

Passport saya berakhir di akhir tahun 2014, dan saya sangat malas untuk mengurus perpanjangan passport karena sudah capek duluan membayangkan antrian passport di kantor-kantor imigrasi di Jakarta. Setidaknya pengalaman saya di tahun 2009 kemarin mengharuskan saya cuti setengah hari hanya untuk menunggu antrian. Belum lagi harus datang pagi pagi hanya untuk mengambil nomer antrian.
Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, persis di halte Busway "Imigrasi" (sumber: http://warungbirojasa.com )
Sempat terbersit untuk mendaftar via online yang katanya mudah, tapi ternyata hasil dari blogwalking juga menunjukkan bahwa antrinya juga akan bareng sama yang lain. Terlebih kalau daftar di Jakarta yang warganya banyak yang melek internet, pasti pendaftar online juga banyak. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan sebagai walk-in applicant. Artinya saya akan datang langsung ke kantor imigrasi tanpa harus mendaftar via online. Target tujuan saya adalah kantor imigrasi Jakarta Selatan (yang notabene sangat sibuk). Alasan pemilihan kantor Imigrasi Jakarta Selatan adalah karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kantor saya di Gatsu, jadi kali aja ada meeting urgent di kantor saya dengan mudah memesan gojek untuk ke kantor. Alasan lain adalah Kantor imigrasi Jakarta Selatan menerbitkan e-passport yang memang sudah jadi incaran saya.

Our Team

Video of the Day

Contact us

Name

Email *

Message *