Reuni yang Tertunda

Dua dekade lalu, saat masih kuliah S1, saya mengikuti program pertukaran ke sebuah kota kecil di Jepang (waduh usia saya ketahuan deh haha). Program ini diikuti oleh dua puluh mahasiswa/i dari beberapa negara. Mengikuti kelas dan kegiatan budaya selama satu semester dalam program ini, membuat kami begitu dekat. Terlebih lagi, beberapa teman kelas juga ditempatkan di asrama yang sama, sehingga kegiatan masak-memasak mempersiapkan makanan masing-masing menjadi ajang interaksi satu sama lain. 

Setelah dua puluh tahun berlalu, interaksi saya dengan teman-teman dari program ini kian jarang. Beberapa masih berteman di sosmed, namun beberapa sudah putus kontak. Sangat disayangkan sebenarnya, mengingat betapa dekatnya kami dulu. Makanya, saat berkunjung ke sebuah negara yang menjadi asal dari teman-teman program saya saat di Jepang, saya akan memberi kabar dan menanyakan mereka tinggal dimana, dan apa kami bisa bertemu. 

April 2023

Tahun lalu, saat saya ada tugas ke Paris, saya mencoba menghubungi teman saya dari Prancis yang juga mengikuti program yang sama dengan saya di Jepang, namanya Samuel. Semasa di Jepang, saya dan Samuel bertetangga kamar di asrama, kami sangat akrab, mungkin karena karakter kami sama, goofy. Beberapa perjalanan backpack yang saya lakukan di Jepang juga saya lakukan bersama Samuel, termasuk saat ke Kyoto dan Pulau Iki

Travel bareng Samuel, Katarina, Martyn and Yama di Kyoto tahun 2004

Sebulan sebelum keberangkatan ke Paris, saya mengirimkan pesan WA ke Samuel, "I might go to Paris mid of April, I will try to spare a day to meet you".  

Tak lama kemudian, Samuel membalas pesan saya, "Hey Cipu, I hope you can come to France! Let's see if we can meet, that would be cool! The problem is that I have a planned holiday around mid-April and I'll be on a road trip to Italy. If you have more information about when you might be in France, let me know. I know live in Lyon, it is two hours from Paris with high-speed train". 

Akhirnya pertemuan dengan Samuel tahun lalu tidak terlaksana. Kedatangan saya di bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri menjadikan saya harus pulang segera ke Jakarta untuk beridul fitri bersama keluarga. Samuelpun di saat yang sama sedang melakukan perjalanan. Dalam perjalanan pulang, saat transit di Doha, Samuel mengirim pesan, "Have a safe journey back home and Happy Eid!! I hope you enjoyed your stay in France and sorry again for not being here this time. Hope we can meet if you come to France again". 

Mei 2024

Akhir Mei tahun ini, saya dan teman-teman kantor dapat undangan ke kantor pusat kami di Bordeaux, Prancis. Saya kembali menghubungi Samuel bahwa saya akan kembali ke Prancis dan kali ini tugasnya ke Bordeaux, "Hi Samuel, I will be in Bordeaux end of May and will stop by Lyon on June 1st from morning until afternoon. If you'll be in Lyon by that time, let's catch up!!". 

Tak ada jawaban dari Samuel. Mungkin dia sedang sibuk dengan kerjaannya. 

Begitu tiba di Bordeaux, saya kembali mengirim pesan "Hi Samuel, I just arrived in Bordeaux. Will you be free next Saturday on June 1 to meet in Lyon?" 

Tak berapa lama ada balasan dari Samuel "Welcome to France!! I am sorry I didn't answer your last message. Unfortunately, I will be performing on Friday evening in the North of France and will come back to Lyon only on Saturday late afternoon".

Saya yang rencananya akan berada di Lyon pada Sabtu 1 Juni hanya dari pagi sampai sore, jadinya berpikir ulang. Dengan jadwal tersebut, saya mungkin akan sulit bertemu Samuel. Samuel tiba di Lyon saat bus saya sudah akan berangkat meninggalkan Lyon. Akhirnya, saya memutuskan untuk menginap semalam di Lyon, saya segera melakukan booking hotel di dekat stasiun bus di Lyon dan tak lupa mengubah jadwal bus meski dengan sedikit penalti hehe. Samuel baru mau nawarin rumahnya, tapi saya sudah keburu pesan hotel. Anda terlalu lincah, Kisanak. 

Juni 2024

Flixbus yang saya tumpangi tiba pukul 6 pagi di Lyon Perrache, salah satu stasiun bus yang menjadi hub transportasi umum di kota Lyon. Samuel baru akan tiba di Lyon sore hari. Saya jadi punya waktu untuk cari sarapan dan berkeliling sejenak. Jarak hotel dari stasiun cukup dekat, kurang lebih 400 meter, modal ngesot sambil geret koper, saya sudah tiba di hotel. Rezeki anak sholeh memang, saya dibolehkan check in pagi, yang tak saya sia-siakan. Perjalanan dari Bordeaux ke Lyon semalam tak bisa membuat saya tidur, kursi bus yang gak bisa recline sudah cukup untuk menjadikan tidur gak nyaman. Sehabis check-in, saya cari sarapan dulu, lalu kembali ke kamar dan langsung tertidur saking ngantuknya dan baru terbangun menjelang jam 12 siang. Saatnya mandi sebelum menelusuri kota Lyon. 

Sebelum bertolak ke Lyon, Samuel sudah memberikan itinerary kemana saja saya baiknya selama di Lyon sambil menunggu dia tiba  di Lyon.
"You should visit the old city (called VIEUX LYON) and you can climb up the hill to visit the FOURVIERE CHURCH if you are brave enough. You can also have a walk on the second hill called CROIX ROUSSE (nice/old/artsy area) stopping by the PLACE DES TERREAUX (city hall square)". 

Berbekal arahan dari Samuel dan bantuan om Google Map, tujuan pertama saya adalah VIEUX LYON (kota tua). Dengan tiket transportasi harian seharga beberapa Euro, saya meninggalkan Stasiun Lyon Perrache dengan bus menuju ke kota tua yang membawa saya menikmati pemandangan sepanjang sungai Saone (bacanya SAWAN kah?), salah satu sungai yang melintasi kota Lyon. Sungai satunya lagi bernama Sungai Rhone. Saya turun di stasiun Vieux Lyon dan berjalan menyusuri sungai hingga tiba di Cour d'Appel de Lyon (semacam kantor pengadilan). Bangunan neoklasik ini merupakan salah satu landmark kota Lyon karena tampilannya yang memang menonjol di dekat bangunan-bangunan sekitarnya. Beberapa turis nampak asyik mengabadikan momen depan gedung ini. Di depan Cour d'Appel terdapat jembatan keadilan bernama Passerelle du palais de justice. Setelah mengambil beberapa gambar di tempat ini, saya memutuskan untuk menerima tantangan Samuel ke FOURVIERE CHURCH atau Basilika Notre Dame Fourviere.  

Sungai Saone di Lyon

Jembatan keadilan dengan latar belakang kantor pengadilan dan Basilika

Saya mengikuti arahan google maps yang mengarahkan saya ke deretan tangga yang menjulang ke atas. Wah ini naga-naganya naik bukit nih. Saya terus mengikuti tangga yang tak kunjung habis, dengan napas yang kian berat. Beberapa kakek nenek melewati saya dengan bugarnya, mereka tak nampak terganggu dengan tangga jahanam yang sedang mereka lalui. Sementara saya, sudah hampir menyerah, nafas sudah terengah-engah. Untungnya saya melihat ujung tangga di ketinggian. Saya menanjak pelan-pelan, sembari merasakan penimbunan asam laktat di paha dan betis. Alhamdulillah tiba juga di puncak tangga. 

Tangga jahanam menuju puncak

Pemandangan dari tangga

Ternyata, naik tangga tadi baru sebagian dari perjalanan menuju ke Basilika Fourviere. Pengunjung yang akan mengunjungi gereja ini, diarahkan masuk ke sebuah taman. Saya mengikuti para pengunjung lain memasuki taman yang ternyata mengajak kami menanjak secara zigzag untuk menuju ke Basilika. Perjalanan menanjak yang kami lalui di taman tak begitu menyiksa karena pepohonan dan tanaman hijau mengiringi kami hingga tiba di pelataran Basilika Fourviere. Keringat yang menetes tak begitu terasa begitu saya menginjakkan kaki di halaman Basilika. Tiba di halaman Basilika, saya disuguhi pemandangan indah kota Lyon dari atas. Cuaca mendung sore itu tidak mengurangi niat para pelancong untuk mendaki bukit ini. Deretan pengunjung memenuhi pelataran Basilika untuk mengambil gambar kota Lyon dan dua sungainya dari ketinggian.  

Memasuki taman menuju Basilika

Basilika Notre Dame Fourviere

Lyon from top 

Basilika Fourviere berdiri tegak dan kokoh di puncak bukit.  Konon, pembangunan Basilika Fourviere ini memakan waktu lebih dari 20 tahun dan selesai di tahun 1896. Basilika ini diperuntukkan untuk mengenang jasa Bunda Maria yang dianggap telah memberikan perlindungan terhadap Kota Lyon saat wabah pes melanda di akhir abad 17 serta wabah kolera pada abad 19. Bahkan, setiap tanggal 8 Desember, warga Lyon mengadakan fete de lumier atau festival cahaya untuk mempertegas ucapan terima kasih mereka pada Bunda Maria. 

Berhubung sudah memasuki kawasan Basilika, tentunya tak afdhol rasanya jika saya tak sekalian masuk, kebetulan cuaca juga sedang mulai rintik-rintik dan Basilika bisa menjadi tempat berteduh sambil menunggu hujan reda. Basilika menyambut kami dengan anggun, saya tak berhenti memperhatikan detail bangunan ini yang dibuat dengan sangat cermat. Pilar-pilah basilika berdiri kokoh menyangga bangunan ini dan dinding-dinding basilika dipenuhi oleh ornamen dan hiasan yang indah. Setelah puas mengelilingi bagian dalam Katedral, pengunjung selanjutnya diarahkan ke bagian bawah katedral yang juga memiliki fungsi sama, namun dengan desain yang lebih sederhana. 

Interior basilika Fourviere


Sky sky alias langit langit



Puas dengan Basilika saya beranjak turun, sambil menunggu kabar terbaru dari Samuel. Samuel belum menentukan TIKUM (titik kumpul) kami. Mengunjungi Basilika Fourviere ini mengingatkan saya akan pengalaman tahun sebelumnya saat berkunjung ke Sacre Ceour di Paris, persamaanya adalah: butuh perjuangan mengarungi tanjakan kejam untuk bisa sampai ke puncak.        
 
The Meet Up 

"Where are you at the moment?" WA dari Samuel 
"On my way to Croix Rousse (sesuai petunjuk anda)" Balasan dari saya 
"Let's meet at 5.30 in Croix Rousse" pesan dari Samuel masuk lagi 
"Which part of Croix Rousse is strategic for us to meet?" saya bertanya lagi. 
"Let's meet in front of the Opera if it's good for you. It gives you enough time to go there at the tourist pace speed" jawab Samuel 
"Oui, tres bien," balas saya di WA sok sok Bahasa Prancis padahal model google translate. 

Turun dari Basilika saya menyeberangi Sungai Saone menuju ke kawasan Croix Rousse yang menurut klaim Samuel adalah daerah yang artistik. Baru saja masuk kawasan Croix Rousse, saya melihat kerumunan orang-orang di depan sebuah gedung. Saya mencoba mendekat dan baru ngeh bahwa gedung ini memampang lukisan bangunan bertingkat dengan balkon yang dihiasi oleh sejumlah figur. Bangunan ini bernama La Fresque des Lyonnais atau Mural Kota Lion, yang menggambarkan 30 tokoh dari Lyon yang dianggap telah membantu membangun Lyon, bahkan beberapa diantaranya dianggap berjasa bagi dunia. Terlihat dari jauh, bangunan ini nampak benar-benar memiliki balkon, namun pas saya mendekat baru kelihatan kalau jendela dan balkonnya ternyata hanyalah berupa lukisan. 


Mural kota Lyon yang nampak sungguhan dari kejauhan 


Saya melanjutkan perjalanan menuju PLACE DES TERRAUX (city hall square) atau alun-alun kota yang sangat ramai. Air mancur yang menyembur di tengah alun alun turut menambah meriah suasana di tempat ini. Cafe-cafe yang bertebaran di sepanjang jalan alun-alun juga penuh akan pengunjung yang datang mungkin hanya untuk sekadar menikmati kopi atau teh, atau memang pengen makan berat. Setelah melewati alun-alun, saya akhirnya tiba di depan gedung Opera, lagi-lagi terima kasih kepada Om Google. Saya tiba 5 menit lebih awal dan mulai memperhatikan orang yang lalu-lalang dengan seksama, mencoba mencari sosok Samuel.

Alun-alun kota Lyon

 
Tikum: Gedung Opera

Saya melihat Samuel dari kejauhan yang sedang celingukan. Saya melambaikan tangan dan tak lama kemudian kami sudah langsung wefie, mengabadikan momen pertemuan setelah 20 tahun tak bersua. Tak banyak yang berubah dari Samuel, masih jenaka dan riang seperti dulu kala. Saya dan Samuel saling mengupdate kabar sambil tak hentinya menggumamkan betapa singkatnya masa 20 tahun itu. Sambil bercakap, kami berjalan menanjak menuju bukit berikutnya, masih di daerah Croix Rousse. Kaki lelah saya ternyata masih kuat jalan menanjak, seiring dengan nafas saya yang tambah ngos-ngosan saat berbincang dengan Samuel. Untungnya, tanjakan kali ini lebih landai dibanding tanjakan menuju Basilika sebelumnya. 

Mandatory wefie setelah 20 tahun

Another hill, another view of Lyon

Kami akhirnya tiba di puncak bukit dan disuguhi pemandangan Lyon dari sudut yang lain. Saya dan Samuel duduk ngaso sambil melanjutkan cerita dan update kami dan teman-teman se-program kami. Setelah sekitar dua jam ngobrol, kami memutuskan makan malam di sebuah restoran Thai di daerah Croix Rousse. Setelah makan malam, jam di tangan sudah menunjukkan waktu pukul 9, suasana petang mulai menyelimuti Lyon dan sekitarnya. Saatnya untuk beristirahat. Samuel menemani saya ke Stasiun Lyon Perrache, dimana dia akan mengambil kereta pulang sekalian menemani saya menuju hotel. Kami berpisah di Lyon Perrache dan berharap bisa bertemu lagi. Sebelum berpisah, saya memberikan oleh-oleh kopi Indonesia dan bumbu gado-gado ke Samuel. Saat di Jepang dulu, Samuel begitu suka bumbu pecel. Wajahnya sumringah saat menerima oleh oleh khas Indonesia tadi. 

Setiba di hotel, saya sudah kehabisan tenaga, jam tangan saya menunjukkan bahwa saya melakukan perjalanan sebanyak 25 ribu langkah atau setara 15 km hari itu. Tak butuh waktu lama untuk saya terlelap, dan sudah dipastikan saya ngorok malam itu. 

Tiga hari kemudian, sebuah pesan WA dari Samuel masuk: ''OMG, I didn't remember I loved it so much!!! But it suddenly came back to me tonight. I hope you travel safely to your next destination". Sebuah gambar menyertai pesan tersebut: Wajah Bahagia Samuel bersama kemasan bumbu pecel dan makanannya yang sudah tersiram bumbu pecel.   

     

  


19 komentar
  1. Syukur akhirnya bisa ketemuan ama Samuel ya mas Cipu,setelah sekian kali gagal😀..gedung"di sana emang indah dan megah ya, itu yang mural di salah satu gedung itu keren banget,kayak beneran,padahal hanya lukisan mural ya..kreatif banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, akhirnya bertemu juga. Sayangnya saya gak lama di Mural itu, jadi ga banyak ngambil gambar huhuhu

      Hapus
  2. Aku pas baca Saone tuh Saon loh kak bukan Sawan wkwkwkw

    Well anyway, itu kalo ke basilika super ga stroller friendly ya kak. Bisa bengek bawa stroler belum lagi sambil gendong baby 🤣 bawa diri sendiri aja uda letih wkwkwk suamiku sih auto big no diajak ke sana. Apalagi cuma liat pemandangan kota dan arsitektur bangunan 🫣 kalo aku sih sukaaa. Tapi kayanya kalo lan jalan ke sana mah ga iso sambil bawa baby ya kak? Karena akan sulit kalo bawa stroller gitu nampaknya.

    Btw aku nerka-nerka yang mana Samuel dan kakak di foto 20 tahun silam. 😆 kalo samuel yang paling kiri, beda juga loh penampakannya dengan sekarang.

    Anyway seruuu banget bisa ketemuaan gituuuu! ❤️ jadi nostalgia gitu yaa hehe apalagi samuel jadi bisa inget lagi rasa bumbu pecel hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akupun masih bacanya SAWAN, Mbak Furi hahahah

      Kalau di foto pertama, Samuel itu berdiri persis di samping kiri saya Mbak. Sepertinya 20 tahun mengubah dia menjadi lebih brewokan

      Hapus
    2. Oooh I see. Aku salah nebak 🤣 iyaaa bedanya jadi brewokan dan sudah nampak kerut hehe

      Hapus
  3. ya ampuuuuuun aku pengen banget trima tantangan naik tangga nya ituuu jugaaa ^o^.. ntah kenapa skr ini kalo ada jalan atau tangga yg curam begini aku jd suka mas.. kalo dulu sebelum pandemi aku pun masih ngos2an naik begini, krn ga pernah olahraga.. setelah pandemi mulai rutin, dan sampe skr jd nagih workout.. makanya kdg aku menilai diri sendiri dari jalanan curam atau tangga begini..

    masih ngos2an kayak dulu atau udah stabil..

    dan itu lukisan mural balkonnya ya ampuuuun, seriiiuss ih mirip beneran yaa :D.. dari sekian banyak gift dari Tuhan, aku sbnrnya berharap diksh bakat melukis, sayangnya ga kejadian hahahahah

    seneng banget pastinya bisa ketemu temen lama.. aku pun dengan temen2 kuliah juga udh putus kontak.. ntah di mana semuanya. apalagi semua foreigners

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Fanny silahkan menyambangi Sacre Ceour di Paris dan Basilika Fourviere di Lyon Mbak, dijamin Mbak Fanny pasti ketagihan kalau memang suka naik tangga. Aku udah kebayang kalau bawa anak kesini, pasti dia udah ngomelin aku karena bawa dia nanjak wakakakak.

      Muralnya bagus mbak, emang art itu harus jadi bagian dari sebuah kota ya mbak, biar kotanya lebih nyaman

      Hapus
  4. Itu interior gedungnya luar biasa ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas interiornya sangat detail dan juga memanjakan mata

      Hapus
  5. sebuah kebahagiaan bisa ketemu teman dan sahabat lama, membuat kita bisa flashback ke masa2 lampau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, apalagi kalau ngobrolnya masih nyambung seperti bertaun taun lalu.

      Hapus
  6. syukur alhamdulillah ya mas setelah sekian lama akhirnya bisa berjumpa lagi dengan kawan lama, terlebih lagi perjumpaannya saat sedang berada dalam perjalanan yang seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, akhirnya bisa berjumpa dengan Samuel. Senang sekali karena sudah dua dekade tak bersua.

      Hapus
  7. buset bule juga suka bumbu pecel juga ya
    denger2 makanan prancis itu tidak familiar dengan lidah kita ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, temen saya ini sudah terpapar dengan sambel pecel pas kami sekolah di Jepang. Kalau familiar tidaknya dengan makanan Prancis, balik ke diri masing-masing, ada yang gampang menyesuaikan, ada juga yang memang harus ada nasi, nah ini yang sering kerepotan urusan makanan.

      Hapus
  8. Yang satu kota aja bisa saja jarang ketemu, mas. Apalagi ini yang beda negara. Bisa ketemu itu sungguh hal yang luar biasa. Terkadang yang direncanakan untuk ketemu bisa gagal. Namun, yang tiba-tiba atau dadakan malah bisa ketemu dan berjalan dengan baik. Itu sering dialamai banyak orang..hihihi

    Melihat tanjaknnya aku rasa ga aada amsalah buat naik ke kawasan basilika. Di semarang sudah biasa lewati tanjakan dengan udara yang lebih panas dibandingkan lyon, prancis...*kepedeaan ..hahahaha

    Bangunannya bagus dan yerawat dengan baik. Hal ini juga didukung kawasan yang tertata dengan baik, bersih, dan nyaman untuk pejalan kaki..

    Cerita yang bagus, mas cipu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya doakan mas Vay bisa berkunjung ke basilika dan merasakan tanjakannya, harusnya cincai lah karena mas Vay juga rajin gowes ke tanjakan maut hahahah. Terima kasih sudah mampir mas

      Hapus
  9. holaa mas cipuuu, omaigodddd lama ga ada kabarnya nih

    aku suka endingnya, akhirnya ketemu, kalau aku udah pasti seneng banget ketemu temen lama. Meskipun udah direncanakan sekian kali dan gagal, dan akhirnya untuk pertemuan kesekian ehh ketemuan juga. Senenggg

    kalau aku baca google map kayaknya banyak nyasarnya, apalagi ini di negara Eropa sono, mungkin tingkat nyasarnya lebih banyak kalau aku hahhaa

    kenapa dulu waktu aku kuliah ga aktif banget ya, padahal dalam hati waktu itu pengen ikutan pertukaran mahasiswa, ehh aku nya kayak ogah nyari info, pas udah lulus kuliah kayak nyesel gitu, apalagi waktu itu zaman AIESEC gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa mbak Ainun, lupakan masa kuliah, sekarang juga bisa traveling kok, asal rajin nabung saja hehe

      Hapus