Shin Ramyun dan Kimchi

Akhir-akhir ini kulkas di rumah selalu ada stok kimchi kemasan, dan di lemari dapur pasti ada Shin Ramyun . Seiring dengan maraknya invasi budaya Korea ke tanah air (musik dan film), invasi makanan Korea pun tak terhindarkan. Depan kompleks saya saja sudah beberapa restoran Korea yang terbuka, baik yang bernuansa kaki lima maupun yang konsep resto. Pun di swalayan Jakarta, kehadiran makanan dan bumbu kemasan Korea juga sudah makin mudah untuk dijumpai. Bagi saya, ini adalah sebuah keuntungan, saya makin gampang memperoleh Kimchi dan Shin Ramyun. Tak seperti beberapa tahun lalu, keberadaan kedua produk ini sulit untuk didapatkan. Kerap ada masa, dimana saya tiba tiba kepengen nyicip kimchi ataupun makan Shin Ramyun, tapi sulit sekali cari produknya. 

Kok saya bisa kadang-kadang kepengen makan makanan Korea itu? Apakah karena ikut-ikutan demam K-Pop seperti kebanyakan rekan-rekan yang memang sudah lama menggemari serial maupun musik Korea? Atau, memang hobi sama makanan bertema Korea? Jawabannya tidak. Kadar kegemaran saya akan serial Korea terbilang biasa saja, cuma menonton Reply 1988 sama Sky Castle bersama istri. Pengetahuan saya akan makanan Korea pun boleh terbilang sangat cetek, cuma tahu tteokbokki sama bibimbap doang.  

Saya sering dihinggapi keinginan untuk makan Kimchi dan Shin Ramyun secara tiba tiba. Keinginan yang kadang tiba-tiba muncul ini sebenarnya dipicu akan kenangan saya tentang sebuah masa dalam hidup saya, saat berada sangat jauh dari orang tua.  

Kenapa menggemari Shin Ramyun? 

 Di pertengahan 2004 (jadi tahu deh kisaran umur saya), saya kebetulan mendapatkan beasiswa selama satu semester untuk mengikuti pertukaran mahasiswa di sebuah kota kecil di Jepang bernama Saga, sebuah prefektur yang terletak di Pulau Kyushu. Programnya bernama Saga University Program for Academic Exchange atau SPACE, sebuah program pertukaran yang diikuti oleh 20 mahasiswa/ mahasiswi per tahun  dari beberapa negara (link programnya bisa dilihat disini). 

with my classmates, SPACE 2004

Secara akademik, saya cukup bisa mengikuti pelajaran selama program ini. Saya pun mendapatkan banyak teman yang hingga sekarang juga masih kontak, meski proses komunikasi kami terus berubah mengikuti transformasi sosial media dari friendster/myspace hingga facebook dan instagram. Nah, yang saya agak kewalahan adalah urusan dapur selama di sana. Pas kuliah di Makassar sih gampang, saya bisa masak nasi terus tinggal beli lauk yang porsi kuli dengan harga kaki lima. Atau, masak Indomie sama telur, sudah bisa kenyang. Nah di Jepang lain cerita, kalau beli makanan di luar terus bisa bocor dompet saya, maklum anak S1 beasiswanya pas-pasan hahaha. Mau beli mi instan juga terkendala dengan kandungan bumbu mi instan di sana yang sebagian besar menggunakan "buta" 豚肉atau daging babi. Praktis, saya mengandalkan stok mi instan dan abon dari Indonesia untuk bertahan (Cerita lengkap lika liku hidup saya dalam dunia perdapuran internasional bisa disimak di tautan ini). Meski hidup saya di sana diselamatkan oleh Thapa, mahasiswa S3 Nepal yang bersedia menjadi chef handal dan menjadi dewa penolong saya untuk bisa bertahan hidup. Sebelum bertemu Thapa, menu makan saya di Saga, boleh dibilang sangat nelangsa. 

Hanya butuh waktu sebulan di Saga, untuk memproklamirkan bahwa persediaan abon dan Indomie saya menipis. Kota Saga, yang meskipun adalah ibukota sebuah prefektur, kala itu ternyata tak memiliki toko halal. Sehingga, saya harus memutar otak untuk mencari sumber makanan yang "cukup" aman untuk dikonsumsi. Berbekal kanji dasar "buta" alias daging babi dan pengetahuan katakana dan hiragana saya yang masih sering tertukar-tukar, saya jadi menjelajahi rak rak makanan di toko swalayan di dekat kos saya. Saya biasanya akan mengambil kemasan makanan dan mengamati setiap huruf kanji, katakana dan hiragana yang tertera dalam informasi bahan bahan kandungan di setiap kemasan. Saat menemukan kanji "豚肉" (buta niku atau babi)" atau huruf  katakana ポーク  (pork) dan ラード (lard), saya akan mengembalikan kemasannya ke tempat semula. 

Pencarian saya akan sumber makanan baru yang cukup aman berbuah hasil saat saya menemukan Shin Ramyun, mie Korea yang saat itu lagi hits karena kegilaan warga Jepang akan serial drama Korea "Winter Sonata" dengan pemeran utama Yon Sama (ini nama peran dalam Winter Sonata). Gempuran produk Korea cukup masif waktu itu masuk ke dalam swalayan di Jepang. Saat saya mencoba membaca ingredients-nya pun, saya tidak menemukan indikasi bahwa Shin Ramyun ini ada kandungan buta/pork maupun lard, malah disitu dibilang seafood flavor. Jadi hemat saya, ini aman untuk dikonsumsi. Pulang dari swalayan, saya langsung mencoba mi instan asli Korea ini, dan ternyata aromanya menggugah selera, sensasi kuahnya yang pedas lezat sangat pas dengan lidah saya yang memang penyuka pedas. 

Shin Ramyun (gambar diunduh dari tautan ini)

Eom Dae Won, teman asrama saya yang berasal dari Korea langsung menghampiri saya, "Hey are you eating Shin Ramyun? The smell is so familiar" (Eh, kamu lagi makan Shin Ramyun ya? Aromanya saya kenal).

"Yes, this is the noodles that have no pork stated in the ingredients" (Iya, mi instan ini yang di daftar bahannya tidak mengandung babi), jawab saya. 

"Yes, I bet you like it. People love it in Korea" (Ya, saya yakin kamu suka rasanya. Di negara saya, orang orang suka banget makan mi ini), kata Dae Won. 

"I love it" (Saya suka banget rasanya), jawab saya sembari menyeruput kuah pedas yang tersisa. 

Sejak saat itu, Shin Ramyun selalu ada di loker dapur saya di asrama. 

Kok Suka Kimchi?

Bagi yang pertama mencoba kimchi, mungkin memang akan merasa aneh dengan rasanya, pun dengan baunya yang mungkin tercium seperti tabung gas yang bocor. Perkenalan saya dengan Kimchi, terjadi di awal Desember 2004. Saat itu kampus sedang libur, musim dingin sedang menyelimuti Jepang, dan banyak kalangan pekerja yang mulai mengambil cuti. Menjelang natal memang banyak pekerja yang mulai mengambil cuti untuk menikmati liburan bersama keluarga. Otomatis sektor industri mengalami kekurangan tenaga kerja, sedangkan kebutuhan akan barang semakin meningkat menjelang natal. Memanfaatkan waktu libur mahasiswa, beberapa pabrik membuka kesempatan bagi para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin bekerja. Hitung-hitung simbiosis mutualisme, pabrik dapat tenaga kerja temporer, mahasiswa yang punya waktu lowong bisa dapat duit tambahan. Saya? Belum berani kerja dimana-mana, bahasa Jepang saya baru di Iqro 2, baru bisa ngomong perkenalan doang. Apalagi kanji, kemampuan saya masih sangat dasar. Saya cukup tahu diri untuk tidak melamar pekerjaan dengan kemampuan bahasa saya yang payah. 

Sampai suatu pagi, Ichimaru San, kepala asrama kami menginformasikan bahwa sebuah pabrik di dekat asrama membutuhkan tenaga mahasiswa asing untuk arubaito (bekerja paruh waktu) untuk membantu proses produksi mereka, no Japanese language requirement. Katanya perusahaan ingin mencoba memberikan pengalaman kepada para mahasiswa internasional bagaimana rasanya bekerja di pabrik Jepang. Saya jadi pendaftar pertama, diikuti teman-teman kelas saya yang lain. 

Di hari pertama masuk kerja, jam 6 pagi, saya dan teman-teman sudah harus bersepeda ke pabrik untuk melakukan arubaito kami. Bersepeda di suhu di bawah 5 derajat di pagi hari sudah sebuah penderitaan, belum lagi kalau angin lagi kencang, rasanya pengen balik ke kamar dan rebahan didalam pelukan futon. Saat kami memasuki kawasan pabrik, kami disambut oleh bagian personalia yang memberi kami kartu untuk clock in dan clock out. Hal yang pertama yang kami lakukan di pagi hari adalah senam Taiso, ini adalah senam yang jamak dipraktikkan di pabrik-pabrik di Jepang untuk stretching dan menghidupkan mood para pekerja. Setelah itu, kami diarahkan ke pos masing masing. Saya dikirim ke pos pengepakan, di mana tugas saya adalah memasukkan produk yang sudah dikemas ke dalam kardus. Produknya apa? tak lain dan tak bukan adalah KIMCHI saudara-saudara. Sementara teman-teman seasrama lain sudah berpencar di tempat penugasannya masing-masing. Awalnya, saya sungguh merasa tersiksa dengan bau kimchi yang tercium seperti cuka. Apalagi, saya di pabriknya, jadinya bau kimchi terasa bau cuka kuadrat, sangat menyengat pemirsah. Namun, lama-kelamaan saya mulai terbiasa dan akhirnya di hari kedua saya bekerja sudah tak mempengaruhi konsentrasi saya lagi.

Kimchi (Gambar diunduh dari tautan ini)

Bekerja di pabrik sungguh membutuhkan kedisiplinan yang tinggi. Kadang saya sambil mengepak kimchi ke kardus, saya bersenandung lagu dangdut untuk mengusir rasa bosan dan jenuh. Namun, saat para pekerja Jepang yang berada di pos yang sama dengan saya mendengar saya bersenandung, mereka menatap saya dengan tatapan pelebur sukma. Entah mereka terganggu dengan selera lagu dangdut saya yang koplo abis atau senandung saya. Saat salah satu teman seasrama yang berasal dari Asia Selatan ditempatkan di pos saya, dia ikut mengepak produk. Dia sepertinya tak kuasa bekerja dalam diam, jadi dia mengajak saya untuk ngobrol sembari bekerja. Saya yang juga jenuh dengan rutinitas mengepak, menyambut ajakan ngobrol teman dari Asia Selatan ini. Mendengar percakapan kami, lagi-lagi kami mendapatkan tatapan seribu jarum dari  para pekerja Jepang. Saya pun sontak terdiam dan kembali menekuni kemasan-kemasan kimchi yang berada di depan saya. 

Waktu makan siang adalah kesempatan saya untuk mengenal teman teman pekerja dari Jepang, karena hanya dalam kesempatan ini mereka bercakap dengan lepas dengan sesama pekerja lain. Namun, lagi-lagi kendala bahasa membuat saya hanya bisa bercakap beberapa patah kata, untuk selanjutnya berkomunikasi dengan bahasa isyarat serta bahasa tubuh. Mereka takjub (lebih tepatnya sedih) saat mereka melihat isi obento (kotak makan siang) saya yang warnanya sangat menyedihkan: putih (nasi), cokelat (abon) dan kuning pucat (telur dadar). Sementara, isi obento mereka 4 sehat 5 sempurna dengan penampakan yang menggugah selera serta warna makanan yang cerah ceria. 

Bekerja di pabrik kimchi tentu membuat saya sempat dihadiahi kimchi dari pabrik buat dibawa ke rumah. Awal-awal mencoba, saya sangat tidak doyan. Namun, karena sering bersama Dae Won yang orang Korea, saya jadi terdorong untuk mencoba kimchi, dan lama-lama mulai suka. Sayangnya saat tahun 2005 kembali ke Indonesia (tepatnya di Makassar), saya kesulitan untuk mendapatkan stok kimchi. Jadilah pelan-pelan Kimchi terlupakan dalam memori saya. 

Kimchi and Shin Ramyun bersatu   

Saat ini, dengan maraknya produk-produk makanan Korea di Indonesia, keinginan saya yang kerap tiba-tiba muncul untuk mencoba Kimchi dan Shin Ramyun sudah sangat mudah terakomodasi. Tinggal ke convenient store yang tersebar di seantero Cibubur, saya bisa dengan mudah mendapatkan Shin Ramyun juga Kimchi dengan harga yang terjangkau. 

Berpadu di meja saya 

Kerap sambil menikmati Shin Ramyun dan Kimchi saya terbawa ke masa-masa kuliah di pelosok Jepang sana. Menyesap kuah Shin Ramyun sembari mengunyah kimchi membawa saya kembali ke tahun 2004, betapa saya merindukan asrama dan teman-teman saya. Betapa saya merindukan untuk kembali ke Saga. 

    

26 komentar
  1. Wah mas Cipu suka Shin Ramyeon dan Kimchi 😆 too bad Kimchi nggak bisa dikirim jarak jauh, kalau bisa sudah saya kirimkan dari Bali ke Cibubur. Kebetulan mba ART di rumah jago masak Kimchi 😂 hehehehe.

    Saya pribadi justru nggak begitu suka Kimchi mas, sangat jarang makan pakai Kimchi even di Korea, Kimchi nggak pernah stock di rumah. Karena rasanya asam 😂 untung si kesayangan juga bukan penggila Kimchi jadilah aman 🤣

    Ngomong-ngomong, mas Cipu mau coba Ramyeon lain nggak? Ada yang nggak kalah enak dari Shin Ramyeon hehehehe dan nggak ada porknya 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eno, iya nanti kapan kapan ke Bali aku jemput Kimchinya hahahah. Iya saya satu satunya orang di rumah yang suka makan Kimchi. Istri dan orang di rumah pada ga suka makan Kimchi, jangankan makan bau nya aja mereka ga suka.

      Kalau ada ramyeon lain yang direkomendasikan boleh banget Eno.... I am up for any ramyeon asal ga ber-pork hehehe.

      Eh gimana? masih sorting pemenangkah? Selamat menyeleksi ENo

      Hapus
    2. Jaman Winter Sonata lagi hits? Yaampun rasanya udah lama bangeet ituu. Hahaha.. (sok muda, padahal saya juga seumuran sama Mas Cipu kayaknya 🤣)

      Btw jaman dulu soalnya blm bs google translate secanggih sekarang ya Mas. Sekarang tiap liat kemasan makanannya yg huruf keriting, tinggal google translate sama hp, keluar deh detailnya. Untung mas cipu jago, bisa menemukan kata buta dengan tepat 🤣 Aku hiragana aja udah lupa, kanji apa lagi. Wasalam semuanya 😅

      Hapus
    3. Mbak Thessa iya mbak, saya kesana pas lagi rame ramenya Winter Sonata. Sampe anak anak Korea kalau pas acara budaya pasti selalu parodi Winter Sonata hahaha.

      Saya menikmati usaha yang saya kerahkan untuk bisa mendapatkan makanan yang cukup aman untuk dikonsumsi sih mbak. Dengan segala kemudahan yang ada sekarang, kadang traveling jadi terasa kurang menantang. #ditoyor hahahah

      Hapus
  2. Pernah di suatu negara asia tengah ketika menginap di homestay,yg empunya rumah mengeluarkan setoples asinan (sepertinya kimchi) dari bawah lantai, ruang kecil terbuat dari papan untuk menyimpan makanan.Kemungkinan asinan dikeluarkan saat musim dingin tiba atau disaat urgent

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas memang proses fermentasi kimchi rumahan banyak diletakkan di bawah lantai, biasanya memang ada ruang penyimpanan kecil di bawah lantai rumah untuk memproses kimchinya. Katanya juga sih, Kimchi ini bagus buat pencernaan karena mengandung bakteri yang baik untuk usus.

      Hapus
  3. waaah Shin Ramyun menggoda banget mas, tp aku kurang suka kimchi, hihi
    sayangnya di tempatku masih blm ada Shin Ramyun deh mas, maklumlah tinggal di desa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ella bisa kirim alamatnya nanti aku kirimin mbak. Kirim ke gmail ku aja alamatnya. Biar bisa merasakan enaknya shin Ramyun

      Hapus
  4. Sampai sekarang belum pernah nyobain atau bahkan sekadar ngeliat wujudnya kimchi secara langsung, hahaha. Cuma pernah baca aja di Trubus kalau kimchi ini termasuk salah satu makanan yang diklaim sebagai makanan tersehat di dunia, gara-gara kandungan bakteri Lactobacilusnya yang tinggi. Penasaran juga sih, kaya semacam sawi difermentasi gitu ya mas?

    Ngomong-ngomong kenapa ya kantor-kantor di Indonesia (selain yang perusahaan Jepang) ga nyoba mengadopsi budaya Taiso. Ga perlu sampai menghadap matahari juga, tapi setidaknya stretching dan gerak badan sedikit sebelum kerja. Bikin pagi hari lebih fresh buat bekerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Ikhwan, Kimchi itu semacam sawi yang difermentasi. Pedes pedes asem gitu mas.

      Nah kalau stretching sudah mulai banyak mas yang menerapkan. Biasanya di kantor maupun pabrik, beberapa perusahaan sudah memulai gerakan wellness for workforce, dimana stretching merupakan salah satu kegiatannya. Memang bagus sih, kalau di kantor bisa stretching, bagus untuk mencegah deep vein trombosis katanya.

      Hapus
    2. Hebat memang ya jepang. Menangani sesuatu itu selalu secara komprehensif, ga parsial. Dalam memekerjakan manusia masih mikirin gimana pekerjanya sehat fisiknya juga (meskipun tekanan kerjanya juga ampun-ampunan dari mereka).

      Noted, mas Cipu. Kayanya emang mesti pecah telor nih nyoba kimchi ke resto korea terdekat hehe.

      Hapus
    3. Iya mas Ikhwan, di Jepang memang orang orang nya workaholic, alias Ishshoukenmei....

      Ayo mas dicoba Kimchinya, semoga suka hehehe

      Hapus
  5. Wah Shin Ramyun ini memang tiada duanya ya. Kebetulan suami paling suka kalau dihidangkan dengan telur setengah matang plus melted cheese sebagai topping. Kalau saya sendiri sukanya kalau ada di dalam hidangan Army Stew (budae jjigae), entah kenapa lebih nikmat rasanya hahaha kalau kimchi kebetulan saya juga nggak terlalu suka, Mas. Kurang ramah untuk perut 😅

    Harus diakui memang kecintaan saya dengan makanan korea karena Kpop dan drakor. Drakor sih khususnya. Tiap drakor pasti ada aja deh adegan mukbang makanan korea yang auto bikin laper hahahaha

    Btw kalau main ke Bogor, coba ke Kini Bistro yang di Jalan Pajajaran deh, Mas Cipu. Itu resto Korea favorit saya, tteokppoki nya enak sekali! Pedesnya pas dan paling cocok dimakan sambil ngedrakor. Oh iya, restonya juga halal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih rekomendasinya Mbak Jane. Kalau ke Bogor bakal hunting ke tempat tempat yang Mbak Jane rekomendasikan.

      Iya Mbak Shin Ramyun ini minimal aku makan sekali dalam seminggu, dan harus pake kimchi, biar terasa nuansa Koreanya hahah

      Hapus
  6. mas cipu tenang, dirimu ada temannya kok, selera musikku juga koplo #eh...hahahha

    mantab ya mas, punya pengalaman yang sungguh berharga saat di Saga, njajal coba coba terjun ke pabrik kimchi, meski pada akhirnya jadi bau kimchi kuadrat #sumpah ya tiap baca blog mas cipu aku jadi belajar banyak kosakata baru yang asique-asique hihi

    jadi agak ngikik pas mendapati kotak makan siangnya agak pucat, sementara rekan lain menu paripurna,4 sehat 5 sempurna.

    dan aku jadi tambah pengetahuan tentang padanan kata babi = buta, lard

    kimchi aku lumayan doyan sih, meskipun pada saat perjumpaan pertama yang tertinggal di indera perasaku lebih ke semriwingnya hahahha

    kalau ramyun, aku masih menyesuaikan kuah model pedasnya...tapi sepertinya kalau baaicnya mie, aku lebih cocok indomie hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Gusti kosakata yang saya pilih kadang unique unique, semoga berqesan ya mbak, dan semoga saya ga keterusan nulis dalam huruf 4L4y hahahaha.

      Aku juga selalu hampir pasti membawa mi instan Indomie kemanapun pergi, selain karena saya memang alumni Indofood, saya dari dulu memang suka banget sama Indomie, apalagi Indomie Kaldu Ayam. Top Notch. Saya jadi tahu Shin Ramyun justru karena kehabisan Indomie dan ga ada yang jualan Indomie mbak di sana hahaha

      Hapus
  7. Wah.. Pengalaman kuliah nyambi kerja di jepang bikin lidah jadi suka ramyun dan kimchi ya mas. Saya penasaran banget sih rasa dari kedua makanan ini gimana. Soalnya belum pernah coba sama sekali. Tiap kali nonton film korea dimana ada adegan makan kimchi pasti saya auto nelen ludah😂 tapi dari penjelasan di atas rasanya kok nggak sesuai yang saya bayangkan. Jangan-jangan nanti saya juga enggak doyan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Astri, bisa dicoba deh... Kimchi memang awalnya aneh, tapi lama lama mungkin suka Mbak. Ayok dicobain... biar tahu suka sama nggak, dan jadi ga bertanya2 kalau ada acara Mukbang

      Hapus
  8. aku awalnya ga pernah bisa suka kimchi mas.. sempet heran rasa asam gitu kok banyak yg suka ;p. berkali2 datang ke bberapa resto korea di wolter monginsidi, kan di sana banyaak tuh resto korea yg dikelola ama ekspat, aku pikir rasanya bakal original, jd dtg deh nyobain. tapi tetep ga bisa suka.

    aku baru bisa menikmati kimchi, pas coba lgs ke korsel. ntah kenapa rasanya kok beda yaa. asem iya, tp setidakny ada rasa lain antara pedes dan juga gurih sedikit. asemnya jd ga menyengat kayak yg aku coba di indo. di korut malah rasa kimchi beda lg. cendrung ke gurih dan pucat warnanya. asemnya ga terlalu kuat. aku lbh suka malah kimchi korut. sayangnya ga ada pedes2nya ;p.

    dari situ sih aku jd suka bgt ama kimchi ;). walopun di indo belum nemu kimchi seenak yg di korsel, tp gpp, aku mulai bisa enjoy makannya. mungkin lama2 jadi terbiasa yaaa. kemarin sempet bikin nasi goreng kimchi dan ramyun juga :D. ternyata memang lebih enak dicampur kimchi gitu hahahaha. rasa asam kimchinya jd ga terlalu strong sih.

    kalo sedang traveling ke jepang, dan kangen instan noodles, akupun nyarinya yg korea punya mas hahahaha. lebih gampang nemuin produk instan noodles tanpa pork yg made in korea drpd yg jepang :D. even rasa seafood aja tetep pake ingredients pork.

    eh kamu sempet belajar di saga yaaa... kalo vaksin covid ini sudah siap diedarin, dan pandemi berakhir, aku mau book tiket ke jepang lg. tp nanti negara2 yg mau aku visit kebanyakan daerah selatan, salah satunya yg udah aku masukin Itin itu SAGA :). kemarin itu aku masukin saga krn nemuin banya objek wisata menarik di kotanya.. sbnrnya pengen banget ke perkebunan anggur, krn yg aku baca anggur di saga rasanya manis dan enak. tp rasanya kalo sedang winter mungkin belum waktunya panen kali ya :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi penasaran sih dengan kimchi rasa Korut, kalau ada versi gurihnya pasti lebih nikmat.

      Baca komen mbak Fanny, saya jadi membayangkan, Mbak Fanny dan keluarga pasti nyaman buat traveling karena mau aja bersusah susah dan rela mengalami berbagai rintangan demi sebuah pengalaman. Tadinya saya sama istri pengen juga mbak ke Kamboja, cuma gimana lagi, COVID menghalangi kami kemana mana

      Hapus
    2. Kamboja netapin deposit yg mahal banget skr ini :(. Untung aku udh sempet kesana, tp sbnrnya msh pgn balik lagi.

      Tp aku baru berani jln LG kalo pandemi udh selesai kok mas. Ga berani skr ini. Apalagi sjk mamaku meninggal kmrn Krn covid, padahal aku dan kluarga udh patuh Ama aturan tiap kluar dan sebisa mungkin jg di rumah, tp mama masih bisa kena. Jadi aku LBH parno sbnrnya soal trip dll. Kayaknya beneran nunggu sampe vaksinnya udh bisa diedarkan sih :).

      Hapus
  9. Kereen .. mas Cipu pernah terpilih jadi peserta pertukaran mahasiswa di Jepang.
    Selamat ya 😊👍.

    Request boleh ya, mas[maksa, hahaha 😄] .. post berikutnya disertain cuplikan video mas Cipu lagi nyanyi dangdutan.
    Juga lagi nyantap kimchi.
    Pleaseee, aku pengin nonton 😁.

    By the way, menurut mas Cipu ada perbedaan rasa ngga antara rasa Shin Ramyun yang ada disana dan yang beredar di Indo ?.
    Biasanya kan rasa otentiknya hilang ya kalau diedarkan di luar negara ..




    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Himawan hehehe, kebetulan pas daftar pertukaran, pesertanya ga banyak, jadi kans lolosnya lebih besar.

      Waduh kalau video nyanyi dangdut sepertinya ga ada mas, soalnya yang seruangan karaoke dengan saya, sudah kadung ternganga mas kalau saya nyanyi dangdut, jadi lupa rekam hahaha.

      Nah menurut saya Shin Ramyun di sana lebih enak deh, tapi yang di sini juga cukup kok mas untuk mengobati rasa rindu sama mie Korea ini

      Hapus
  10. Kayaknya "aroma" bisa jadi kayak lembaran-lembaran foto, ya, Bang Cipu? Kadang-kadang saya juga suka ingat momen-momen tertentu waktu mencium aroma tertentu. Nggak cuma aroma makanan, aroma ruangan juga. Setiap kali masuk ke ruangan ber-AC yang baru disemproti parfum, misalnya, saya ingat saat-saat ngeband sama kawan-kawan SMP. :D

    BalasHapus
  11. shin ramyum belum pernah cobain mas cipu, ini sodaranya shin park yee bukan ya :D #ehhh
    pengalaman mas cipu dari jaman muda dulu membuat aku kayak kecill banget,ga ada apa2nya pengalaman aku hahaha, udah mandiri, nyobain kerja dipabrik meskipun kemampuan bahasa masih iqro 2, tapi tetep semangat
    jadi mahasiswa yang mengalami pertukaran pelajar seperti ini bikin banyak pengalaman, dulu watku kuliah pengennn banget ikut AISEC kalau ga salah, tapi aku ga yakin sama kemampuan inggrisku, astagaaaaa
    padahal waktu jaman kuliah dulu pengen bisa melanglang buana, cari pengalaman yang wow gitu di negara asing.

    ngomong ngomong kimchi, aku dulu kenal waktu kuliah juga, dimasakin sama guru les bahasa korea, anehh untuk pertama kalinya, dari baunya aja kok aneh ya, mungkin belum terbiasa. makin maraknya drakor jaman itu, di malang sampe ada minimarket yang jualan cemilan dari korea, astagaaa luar biasa pengaruhnya emang nih drakor

    BalasHapus
  12. kalau saya sejak awal nyicipin makanan korea entah apapun itu, mulai kimchi sampai daging bbqnya, gak ada yang suka T_T.. yang agak suka cuma mienya doang itu pun kalau nggak pedes wkwk.. entah kenapa gak cocok sama makanan korea,, sebaliknya kalau makanan jepang, favorit bgt..

    BalasHapus